Detik-detik Mencekam Resto Legian Malioboro Terbakar di Tengah Ricuh

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 12:03 WIB
Kafe di dekat DPRD DIY terbakar, Kamis (8/10/2020).
Restoran Legian Malioboro, Yogyakarta yang terbakar di tengah kericuhan kemarin, Kamis (9/10/2020). Foto: Pius Erlangga/detikcom
Yogyakarta -

Restoran Legian di Jalan Malioboro, Yogyakarta terbakar hebat saat massa demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja ricuh, kemarin. Anak pemilik restoran, Demas Prabowo Wicaksana Nugroho (18) (sebelumnya ditulis Dimas), menyebut api diketahui berasal dari lantai dua.

"Pastinya jam berapa nggak tahu, tapi posisi saya pas itu di entrance Legian. Tahu-tahu ada yang bilang kebakaran, terus ada banyak orang nggrombol gitu bantuin buka pintu Legian soalnya posisi kekunci," kata Demas lewat pesan singkat kepada detikcom, Jumat (9/10/2020).

Demas menyebut kala itu restorannya memang sengaja tutup karena jalan di area Malioboro sudah ditutup polisi. Saat itu, Demas dan seorang karyawannya sengaja datang ke restoran untuk berjaga.

"Iya (api dari lantai dua), aku naik posisi api nyala. Jadi aku ikut madamin dari dalam. Yang kena awalnya bagian joglo," ceritanya.

"Waktu itu yang naik kira-kira ada 4-5 orang, yang aktif aku, karyawanku, sama satu orang nggak kenal kayaknya yang ikut demo," jelas Demas.

Setiba di lantai dua, Demas menyebut api sudah menyambar bagian joglo restorannya. Tim pemadam kebakaran lalu tiba pukul 15.30 WIB.

"Kalau yang posisi joglo ludes semua. Estimasi kerugian belum kehitung, iya (habis renovasi)," jelasnya.

"Tapi ada rekaman ada yang membakar pakai molotov," kata Demas sembari menyertakan rekaman video CCTV tersebut.

Hal senada juga disampaikan Cahyo, kerabat Demas yang juga ada di lokasi. Cahyo mengaku datang saat api sudah padam.

"Jadi saya ke situ api sudah padam, niat saya menjemput saudara-saudara saya. Waktu itu Legian sudah paska terbakar, pemadam kebakaran sudah di lokasi," terangnya.

"Ada kursi-kursi terbakar, meja, joglonya juga terbakar cukup parah di bagian depan. Saat itu massa masih di depan gedung DPRD masih berusaha untuk masuk," tutur Cahyo.

Melihat massa yang makin ricuh, dia akhirnya memutuskan untuk mengajak Demas dan karyawan yang ada di lokasi itu untuk pulang. Cahyo mengaku sempat melihat keributan antara massa dengan polisi.

"Saat itu saya juga merasa takut sehingga saya memutuskan untuk mengajak pulang daripada nanti muncul kerusuhan lagi. Kemudian ternyata massa mulai ke samping ke Jalan Perwakilan mulai menyerang polisi dengan melempar petasan dan batu," urainya.

Cahyo mengaku langsung meminta Demas untuk mengunci pintu bawah. Mereka akhirnya mengevakuasi diri lewat pintu samping.

"Sebelumnya pintu bawah saya minta Demas kunci dulu baru setelah itu kita keluar lewat pintu atas, baru keluar lewat parkiran bawah tempatnya ibu mertua saya. Saat itu memang cukup ngeri soalnya massa masih menyerang terus, masih main lempar petasan, takut juga kalau tiba-tiba mengenai bagian Legian atas," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, demo tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di depan gedung DPRD DIY berlangsung ricuh, Kamis (8/10). Sebanyak 45 orang diamankan polisi. Fasilitas di kantor DPRD DIY, sejumlah kendaraan, dan halte bus Trans Jogja rusak.

(ams/sip)