Sultan soal Ricuh di Malioboro Kemarin: Ada yang Sengaja Anarkis

Pradito Rida Pertana - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 11:37 WIB
Imbas ricuh demo mahasiswa di Yogyakarta, kawasan Malioboro terlihat porak-poranda. Ini foto-fotonya.
Kerusakan di kawasan Malioboro Yogyakarta. Foto: PIUS ERLANGGA/detikcom
Yogyakarta -

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X angkat bicara soal kericuhan yang pecah di tengah demo tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di depan DPRD DIY, Malioboro kemarin. Sultan mengungkap ada pihak-pihak yang sengaja bertindak anarkis.

"Jadi kalau sekarang tidak perlu ada demonstrasi lagi, ya, saya kira sudah cukup," katanya saat ditemui wartawan di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Jumat (9/10/2020).

Tak hanya itu, Sultan telah meminta kepada aparat penegak hukum agar bertindak tegas, karena dinilai ada unsur-unsur kesengajaan dari kericuhan berujung perusakan sejumlah aset kemarin.

"Saya akan minta kepada aparat (untuk) tindak pidana (pelaku), karena ada kesengajaan untuk melakukan anarki," ucapnya.

Bahkan, secara tegas Sultan meminta kepada aparat penegak hukum untuk tidak segan-segan menindak pelaku meski masih duduk di bangku SMA maupun SMK. Sultan menilai para pelaku kekerasan dan perusakan harus ditindak secara hukum.

"aya tidak mau tahu siapa orang itu, kalau tidak (ditindak) nanti kekerasan akan terjadi (lagi)," ujarnya.

"Ya kalau saya ya, saya menyesali kejadian, kejadian anarki dan itu by design. Kenapa saya mengatakan itu, karena yang dari mahasiswa, pelajar, sama buruh sudah selesai di DPR (DPRD)," kata Sultan.

Namun, kata Sultan, ada sekelompok orang yang tidak mau pergi. Sultan mengatakan kelompok itu bertahan di kawasan Kota Baru, hingga sore.

"Sehingga untuk keluar dari Malioboro dan Kotabaru penduduk setempat keluar," lanjut Sultan.

Berkaca dari temuan tersebut, Sultan menyebut kericuhan itu betul-betul by design. Terlebih, sebelum keluar dari Kotabaru kelompok tersebut sudah melakukan perusakan fasilitas publik.

"Jadi itu by design, saya yakin. Sehingga sebelum keluar dari Kotabaru pun menghancurkan fasilitas publik," ujarnya.

Oleh karena itu, Sultan akan menggelar rapat dengan tujuan mengkalkulasi kerusakan akibat kericuhan itu. Bahkan, Sultan berniat akan menuntut pelaku dan memidanakannya.

"Jadi saya ingin nanti siang ada rapat, saya ingin kita pidana (pelaku perusakan fasilitas publik), kita tuntut. Karena ini by design, bukan kepentingan publik. Kita tahulah, saya kira saya tidak perlu mengatakan, mas, mbak tahu kelompok itu," katanya.

Sultan menilai tuntutan secara hukum akan memberi efek jera dan agar kejadian serupa tidak akan terjadi di kemudian hari.

"Supaya tidak main-main, karena dia juga maunya main-main. Semua dengan kekerasan, di mana pun, di provinsi manapun itu (aksi berujung perusakan fasilitas publik) dilakukan," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, aksi demo tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja berlangsung di sejumlah daerah di Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (8/10). Aksi demo diwarnai kericuhan hingga 45 orang diamankan polisi.

Fasilitas di kantor DPRD DIY, sejumlah kendaraan, dan halte bus Trans Jogja rusak. Bahkan restoran yang ada di sebelah gedung DPRD DIY di Malioboro juga terbakar diduga karena lemparan molotov.

Tonton video 'Warga Gotong Royong Bersihkan Malioboro Pasca-Ricuh Demo Omnibus Law':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/mbr)