RSUD Solo Jawab Isu Soal COVID-kan Pasien: Kalau Ada, Buktikan!

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 18:38 WIB
Ilustrasi Corona
Ilustrasi. (Foto: dok iStock)
Solo -

Direktur RSUD Bung Karno, Solo, dr Wahyu Indianto, menilai seharusnya pernyataan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko soal COVID-kan pasien harus disertai data dan bukti. Menurutnya, jika terbukti maka tinggal menunjuk rumah sakit mana yang meng-COVID-kan pasien.

"Seharusnya kan berbicara menggunakan data. Kalau memang ada yang meng-COVID-kan, ya tinggal tunjuk saja rumah sakit mana tinggal dibuktikan," kata Wahyu saat dihubungi detikcom, Senin (5/10/2020).

Menurutnya, justru saat ini tenaga kesehatan (nakes) sangat membutuhkan dukungan dari seluruh pihak. Sebab saat ini kondisi mereka banyak yang kelelahan.

"Nakes itu sekarang kelelahan, seharusnya diberi dukungan. Mereka sehari-hari harus melalui protap, harus pakai APD (alat pelindung diri), harus mandi setelah bertugas, mereka capai," ujar dia.

Wahyu menuturkan banyak rumah sakit yang jumlah pasien regulernya berkurang karena harus melayani pasien COVID-19. Bahkan di RSUD Bung Karno mengubah seluruh pelayanannya menjadi khusus COVID-19.

"Kalau boleh memilih kan pasti rumah sakit tidak mau menangani COVID-19," kata dia.

Terkait status pasien COVID-19, Wahyu menilai masih ada pihak yang salah paham. Dia menegaskan hanya pasien dengan hasil tes swab positif yang disebut sebagai pasien COVID-19.

"Misalnya orang meninggal setelah kecelakaan, sempat dites swab ternyata positif, itu termasuk pasien COVID-19, walaupun meninggal karena kecelakaan," kata dia.

"Atau pasien dengan komorbid. Kalau hasil swab-nya positif, berarti pasien COVID-19. COVID-19 ini memicu penyakitnya menjadi parah sampai meninggal," imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Gugus Tugas COVID-19 Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan seluruh proses penanganan COVID-19 sudah ada aturannya. Menurutnya, rumah sakit pun tidak akan sembarangan memberikan status pasien COVID-19.

"Kan semuanya ada aturannya. Status terkonfirmasi itu kan harus dibuktikan hasil laboratorium, semuanya selalu dilaporkan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo itu.

"Kalau pasien meninggal dalam kondisi suspek, itu terdata sebagai suspek, walaupun pemulasaraan jenazah menggunakan protokol COVID-19. Jadi jangan salah, disebut pasien COVID-19 itu ketika hasil laboratoriumnya positif," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang disoal itu disampaikan saat bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pekan lalu. Dalam pertemuan itu salah satu yang dibahas adalah definisi ulang kematian akibat virus Corona.

"Tadi saya diskusi banyak dengan Pak Gubernur, salah satunya adalah tentang definisi ulang kasus kematian selama pandemi. Definisi ini harus kita lihat kembali, jangan sampai semua kematian itu selalu dikatakan akibat COVID-19," kata Moeldoko kepada wartawan di kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan Semarang, Kamis (1/10).

Moeldoko lalu mencontohkan ada pasien yang diduga COVID-19 meninggal karena kecelakaan tapi didefinisikan meninggal karena COVID-19. Hal semacam itu, kata Moeldoko, harus diluruskan agar tidak disalahgunakan pihak yang mencari keuntungan.

"Jangan semua kematian dikatakan COVID. Jangan orang kena COVID di perjalanan kecelakaan definisinya mati karena COVID. Perlu diluruskan ini, jangan nanti disalahartikan dan menguntungkan pihak-pihak yang mencari keuntungan dari definisi itu. Akan kita angkat ke atas agar ada kesepakatan untuk mengkategorikan dengan tepat," jelasnya.

(rih/sip)