Tangani COVID-19 di Ponpes, Ganjar: Kuncinya di Para Kiai

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 21:59 WIB
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Rabu (30/9/2020).
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Rabu (30/9/2020). (Foto: Dok Humas Pemprov Jateng)
Semarang -

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai perlu ada protokol khusus dalam menangani virus Corona atau COVID-19 di pondok pesantren (ponpes). Kerja sama antara pemerintah, pengelola, dan kiai menurut Ganjar menjadi kuncinya.

Hal itu diungkapkan Ganjar di rumah dinasnya usai Vidcon Rakor Penanganan COVID-19 di Pesantren dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

"Kuncinya ada di para kiai, nyai, sesepuh. Kemudian peran Kemenag menjadi penting, ulama bisa bertemu untuk sama-sama buat aturan protokol di pesantren," kata Ganjar dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/9/2020).

Menurutnya, perlu ada kader yang membantu menambah literasi soal seluk-beluk COVID-19 termasuk soal pencegahannya di lingkungan pondok pesantren. Kader tersebut didampingi oleh Dinas Kesehatan setempat. Bahkan, organisasi seperti RMI hingga Asosiasi Para Gus (Asparagus) juga bisa mendampingi.

"Terus kemudian protokolnya dibuat. Nah setelah itu nanti akan kita ketahui kekurangannya apa, pasti sarpras. Nah seperti ini bagaimana? Ya mari pemerintah membantu. Maka butuh kerja sama, antara pengelola ponpes dengan pemerintah," jelas Ganjar.

"Ini penting, karena kalau enggak ini akan menjadi keresahan maka kita mesti jaga perasaan dan kepada para ulama-ulama memang penting untuk kita bicara," sambungnya.

Ganjar menjelaskan, sebenarnya sudah ada gerakan Jogo Santri yang digencarkan Wagub Jateng, Taj Yasin. Gerakan itu sudah jalan meski belum bisa merata.

"Di Jateng sudah mulai namanya Jogo Santri, Jogo Kiai, Pak Wagub Gus Yasin sudah jalan meskipun belum semua," katanya.

Diketahui, pondok pesantren (ponpes) di Kelurahan Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas menjadi klaster virus Corona setelah 127 santrinya positif COVID-19.

"Untuk kehati-hatian, kita lockdown selama 14 hari supaya tidak ada orang keluar masuk, meski yang positif sudah kita evakuasi," kata Kepala Dinas Kesehatan Banyumas Sadiyanto saat dihubungi wartawan, Kamis (24/9).

Dia mengatakan, pihaknya terus melakukan screening kesehatan dan evakuasi santri yang positif COVID-19.

"Dari 127 santri yang positif, 82 di antaranya merupakan warga luar daerah, yang ber-KTP Banyumas hanya 45 santri," jelasnya.

Sementara itu, penutupan ponpes juga dilakukan di Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang sejak beberapa waktu lalu. Di ponpes tersebut terdapat 11 santri yang terkonfirmasi positif COVID-19.

"Dari 11 santri, yang ber-KTP Banyumas ada tiga orang. Sudah kita rujuk ke rumah sakit. Sudah kita lockdown, diawasi gugus tugas kecamatan, desa dan ponpes," ujar Sadiyanto.

(alg/rih)