Nobar Film G30S/PKI Digelar di Masjid Mujahidin Banjarsari Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 21:39 WIB
Suasana nobar film Pengkhianatan G30S/PKI di Masjid Mujahidin, Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, Solo, Rabu (30/9/2020).
Suasana nobar film Pengkhianatan G30S/PKI di Masjid Mujahidin, Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, Solo, Rabu (30/9/2020). (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Acara nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G30S/PKI digelar di Solo, Jawa Tengah, Rabu (30/9/2020). Sekelompok masyarakat menggelar nobar di Masjid Mujahidin, Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari.

Selepas Isya, terlihat jemaah berdatangan menghadiri nobar yang digelar oleh ormas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) bersama sejumlah kelompok lain. Banyak pula jemaah yang sudah tiba sejak sebelum salat Isya.

Selain di dalam masjid, panitia juga menyiapkan tenda di luar masjid, yakni di sisi selatan. Disediakan pula kursi-kursi bagi jemaah.

Sebelum masuk ke lokasi, peserta dicek suhunya. Panitia menyiapkan tempat cuci tangan yang bisa dimanfaatkan jemaah.

Acara kemudian dimulai dengan tausiah oleh beberapa tokoh. Mereka antara lain Ustaz Tengku Azhar, Oesman Amirodin, Ustaz Muinudillah Basri dan Ustaz Shobbarin Syakur.

Isi tausiah antara lain kesaksian kekejaman PKI. Dijelaskan pula tentang kekhawatiran munculnya gerakan PKI dengan gaya baru.

Setelah tausiah selesai, panitia kemudian mulai memutar film karya Arifin C Noer tersebut. Sudah disiapkan sejumlah layar untuk menyaksikan film bersama-sama.

Humas acara nobar, Endro Sudarsono, mengatakan acara digelar sebagai pengingat terhadap sejarah kelam Indonesia. Diharapkan masyarakat tidak melupakan sejarah PKI yang hingga kini menjadi partai yang dilarang.

"Karena saat ini sejarah tentang PKI kurang dipahami generasi muda. Kita harapkan masyarakat tidak melupakan sejarah bagaimana kejamnya PKI," kata Endro di sela acara.

Dengan kegiatan ini, kata Endro, masyarakat diajak waspada dengan gerakan komunis gaya baru. Meskipun komunisme dilarang, mereka yakin paham tersebut masih hidup dan berkembang.

"Kita ajak masyarakat waspada dengan PKI gaya baru ini. Jangan sampai gerakan ini terus berkembang dan menguasai negeri ini," ujarnya.

(bai/rih)