Kisah Hidup Cak In'am, Rangkul Para Eks Napi Teroris di Warung Kopi

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Minggu, 27 Sep 2020 13:48 WIB
Muhammad Inam Amin, sosok perangkul eks napiter agar diterima di masyarakat, Sleman, Minggu (27/9/2020).
Muhammad In'am Amin. Foto: (Jauh Hari Wawan S/detikcom)
Sleman -

Seorang pria di Sleman bernama Muhammad In'am Amin (44) mengabdikan hidupnya untuk merangkul para mantan narapidana kasus terorisme (napiter). Kisahnya berawal saat dia tumbuh di lingkungan yang tak jauh dari para pelaku terorisme.

"Jadi lulus SD itu oleh bapak, saya dimasukkan ke ponpes di Solo, di sana kita mengenal orang (bomber) yang sekarang sudah meninggal," kata pria yang akrab disapa Cak In'am itu saat ditemui di warung Kopi Gandroeng, Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, Rabu (23/9/2020).

Pria asal Lamongan, Jawa Timur itu pun memiliki sejarah panjang dengan pelaku terorisme. Sebut saja sosok terpidana mati bom Bali 1, Amrozi cs.

Dia sangat familiar dengan keluarga bomber itu. Bahkan sempat merawat anak Amrozi ketika menjalani masa tahanan di Nusakambangan.

"Amrozi, Ali Gufron itu teman bapak saya, keluarga juga. Dulu anaknya Amrozi dulu ikut saya saat masih SMP-SMA, saat Amrozi di Nusakambangan tahun 2005/2006 kalau nggak salah," kenangnya.

Kepeduliannya kepada para eks napiter berawal dari pengalaman pahitnya. Salah seorang adiknya terpapar paham radikal saat berada di Timur Tengah pada 2011.

"Adik saya ke Mesir 2011 kuliah satu tahun masih seperti biasa, tahun kedua hilang. Pamit jihad bilang sama orang tua kalau mau sahid di sana," ceritanya.

"Masih muda 17 tahun, tapi kuliah di Mesir ketemu orang Eropa Timur kemudian pergi ke Suriah, tiap hari pegang AK47, sudah saya suruh pulang nggak mau, akhirnya 2012 dapat kabar jadi pelaku bom bunuh diri," kenang pria berkacamata itu.

Pil pahit itu yang menjadi titik baliknya. Dia akhirnya mencium sesuatu yang tidak beres dan menyebut ada kesalahpahaman di balik pilihan orang-orang yang menjadi teroris.

"Dari situ saya mengambil kesimpulan ada sesuatu yang tidak beres, kesalahpahaman, brain wash, karena saya tahu betul adik saya," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2