Haedar Nashir Soal Pembakaran Al-Qur'an: Ironi di Negara Nobel

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 19:17 WIB
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir di Bantul, Senin (3/2/2020).
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir di Bantul. (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta - Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengecam aksi anti-Islam di Swedia dan Norwegia yang berlangsung ricuh hingga melakukan pelecehan terhadap kitab suci Muslim, Al-Qur'an. Haedar pun menyesalkan aksi Islamofobia yang terjadi di negara asal Alfred Nobel.

"Muhammadiyah mengecam keras tindakan pembakaran Al-Quran dan penghinaan kepada Nabi Muhammad yang dilakukan kelompok orang yang menamakan diri Stop Islamization of Norway (SIAN) di dekat parlemen Norwegia pada Sabtu (29/8)," kata Haedar lewat pesan singkat yang diterima detikcom, Senin (31/8/2020).

"Aksi demonstrasi anti-Islam di Norwegia yang berakhir ricuh itu menunjukkan sikap Islamofobia yang sangat buruk di era modern yang semestinya menjunjung tinggi perbedaan agama, ras, suku bangsa, dan golongan apapun," sambungnya.

Haedar pun menyesalkan aksi itu dilakukan di negara yang dikenal paling toleran. Terlebih, kata Haedar, Swedia merupakan negara asal Alfred Nobel yang memberikan penghargaan kepada pihak yang berkontribusi menjaga perdamaian.

"Ironinya tindakan intoleran terhadap Islam tersebut terjadi di negara yang selama ini pada setiap memberikan Hadiah Nobel berupa penghargaan atas usaha-usaha perdamaian dan kemanusiaan. Karenanya Muhammadiyah berharap dan menghargai tindakan tegas pihak berwenang atas perbuatan anarkis dan intoleran di negeri Alfred Nobel tersebut," jelasnya.

Haedar pun menghargai negara-negara Islam dan pihak lain yang menyampaikan protes atas tindakan anarkis tersebut. Meski begitu, Muhammadiyah mengimbau agar umat Muslim tidak terpancing dan menjunjung tinggi perdamaian.

"Namun Muhammadiyah menghimbau dan mengajak kepada masyarakat muslim di dunia Islam, khususnya di Indonesia agar tetap tenang dan dewasa dalam menyikapi peristiwa di Nurwegia itu secara damai, proporsional, dan elegan. Seraya menghindari reaksi berlebihan dan tindakan yang tidak mencerminkan karakter Islam yang menjunjung tinggi perdamaian dan misi rahmatan lil-'alamin," pesan Haedar.

(ams/sip)