Kisah Ratu Kalinyamat, Perempuan Tangguh yang Lawan Portugis di Malaka

Dian Utoro Aji - detikNews
Minggu, 30 Agu 2020 11:17 WIB
Makam Ratu Kalinyamat di kompleks Masjid Mantingan di Desa Mantingan Kecamatan Tahunan, Jepara, Kamis (27/8/2020).
Foto: Makam Ratu Kalinyamat di kompleks Masjid Mantingan di Desa Mantingan Kecamatan Tahunan, Jepara, Kamis (27/8/2020).(Dian Utoro Aji/detikcom)
Jepara -

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Ratu Kalinyamat. Sosok perempuan tangguh asal Jepara ini pernah melawan penjajah Portugis yang datang ke Malaka pada abad ke-16. Bagaimana kisahnya?

Kisah tentang Ratu Kalinyamat dipaparkan melalui seminar online yang diselenggarakan oleh Suara Mahasiswa Jepara (Swara). Perkumpulan mahasiswa asal Jepara itu mengangkat seminar tentang penguatan identitas lokal kupas tuntas Jepara dulu kini dan nanti.

Pada kesempatan itu ada dua narasumber yang dihadirkan yakni Budayawan Jepara Drs Hadi Priyanto dan Asisten 2 Setda Jepara Ir Achid Setiawan Candraningrat.

Hadi mengatakan, munculnya sejarah Kerajaan Jepara tidak secara tiba-tiba. Menurutnya sudah beberapa sumber sudah menyebutkan keberadaan Jepara. Sumber itu jauh sebelum adanya Ratu Kalinyamat atau pada abad ke-7.

"Mitos Kerajaan Jepara sudah disebut, babad tanah Jawa, itu dikisahkan pernah dikuasi Raja Sandang Gerba ini mitos, Sandang Garba ini ahli dalam bidang perdagangan, dari negeri Medang Kamulang, hal tersebut mengkisahkan Sadag Garba menjadi kota Jepara, jauh sebelum Ratu Kalinyamat, pada abad ke-7. Artinya sejarah daerah tidak tiba-tiba," ujar Hadi saat webinar, Kamis (27/8/2020).

Hadi yang juga merupakan penulis buku ini menjelaskan Ratu Kalinyamat muncul saat Sultan Trenggana Raja Kerajaan Demak setelah meninggal dunia. Karena pada saat itu sentral Kerajaan Demak diserahkan kepada Ratu Kalinyamat.

"Memang Ratu Kalinyamat sangat dominan ketika Sultan Trenggana (Raja Kerajaan Demak) setelah meninggal dunia. Dari sentral Kerajaan Demak itu diberikan kepada Ratu Kalinyamat," kata Hadi.

"Di tengah konstelasi politik Kerajaan Demak perebutan kekuasaan, ratu masih menempati posisi penting. Setelah Pangeran Hadirin (Suami Ratu Kalinyamat) meninggal beliau (Ratu Kalinyamat) sangat luar biasa," sambungnya.

Menurutnya ada berapa catatan penting soal kejayaan Ratu Kalinyamat. Pertama yakni di bidang keamanan. Ratu Kalinyamat sadar akan persaingan antara satu kerajaan dengan kerajaan lain. Seperti di Malaka ada Portugis, maka Ratu Kalinyamat memperkuat armadanya.

"Ada catatan, pertama melihat bidang, bidang keamanan, karena beliau sadar ada persaingan antara kerajaan-kerajaan hingga kasultanan kemudian ada ancaman dari luar, ada Portugis di Tanjung Malaka. Kemudian memang untuk kedaulatan pembangunan Jepara itu beliau memperkuat armadanya," jelas Hadi.

Lalu bagaimana Ratu Kalinyamat memperkuat armadanya? Menurut Budayawan Kota Ukir itu, Ratu Kalinyamat melengkapi armada kapalnya dengan senjata sendiri. Kapal yang digunakan merupakan kapalnya sendiri. Tak main-main, pasukan Ratu Kalinyamat melakukan perlawanan kepada Malaka dua kali.

"Bagaimana cara membuat armadanya beliau membuat kapal sendiri, perlengkapan dengan senjata sendiri," jelasnya.

"Waktu Jepara itu sangat kuat, kemudian ketika tahun 1551, itu Sultan Johor meminta bantuan beliau (Ratu Kalinyamat) untuk menghalau atau melawan Portugis yang sedang menguasai Malaka. Terus selang 30 tahun Sultan Aceh mengajak menyerahkan Malaka karena mengancam kedaulatan mereka. Dan itu dilakukan Ratu Kalinyamat," sambung Hadi.

Tidak hanya itu, di sektor ekonomi pada masa Ratu Kalinyamat sudah maju pesat. Menurutnya perdagangan di Jepara menjadi garda terdepan di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Karena segi keamanan di Jepara cukup aman untuk berdagang.

"Kemudian bermakna ekonomi Jepara, waktu itu pusat perdagangan bahwa disebutkan garda kedepan di pesisir utara pulau Jawa. Jepara masih di bawah Ario Timur Pangeran Hadirin (suami Ratu Kalinyamat) pelabuhan tidak besar, kemudian Ratu Kalinyamat menjadi ratu pelabuhan besar. Orang Aceh berdagang ke utara pasti lewat Jepara. Karena keamanan terjamin, enak lah. Jepara menjadi posisi yang penting," kata dia.

Lebih lanjut, kata dia, Ratu Kalinyamat juga memiliki benda peninggalan yang hingga saat ini masih terjaga dan terawatyakni Masjid Mantingan. Masjid itu terletak di Desa Mantingan Kecamatan Tahunan, Jepara.

Menurutnya, Masjid Mantingan menjadi bukti sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Jepara dan sekitarnya. Di masjid yang diperkirakan berusia ribuan tahun itu menjadi perpaduan kebudayaan. Selain itu, Masjid Mantingan menjadi saksi perkembangan ukir di Jepara hingga dikenal di seluruh dunia.

"Masjid Mantingan dibangun setelah menggantikan Sultan Hadiri selang 10 tahun atau pada tahun 1559. Masjid itu menjadi sumber sejarah perkembangan islam Jepara. Selain itu, ukiran di Masjid Mantingan menjadi sumber atau menjadi bukti sejarah. Periode Kalinyamat sudah berkembang ukiran, bukan hanya ukiran Jepara, Jawa saja, tapi kemudian mengizinkan ornamen perpaduan ragam budaya, dari China, Islam. Ada banyak budaya di Masjid Mantingan," papar Hadi.

Diwawancara terpisah, Juru Kunci Makam Ratu Kalinyamat, Ali Safii, menjelaskan sosok Ratu Kalinyamat merupakan sosok yang luar biasa. Menurutnya Ratu Kalinyamat sempat melawan Portugis di Malaka. Bahkan menurutnya Ratu Kalinyamat dua kali melawan Portugis.

Selanjutnya
Halaman
1 2