Round-Up

Membaca Lagi Chat Dosen 'Kok Kamu Atur Saya' yang Heboh di Twitter

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 21 Agu 2020 10:59 WIB
Tangkapan layar medsos chat dosen Kok kamu atur saya, Kamis (20/8/2020).
Foto: Tangkapan layar medsos chat dosen 'Kok kamu atur saya'

Suranto mengatakan WA menyediakan fitur emoticon yang dapat digunakan untuk membantu membangun sense of human. Namun kita harus tetap memastikan bahwa lawan bicara mempunyai pemahaman yang sama terhadap emoticon tersebut.

"Di WhatsApp itu ada fasilitas emoticon. Itu bisa kita pilih yang sesuai. Cuma, masalahnya, itu kita harus mempertimbangkan orang yang kita kirimi itu paham nggak, sependapat nggak pemaknaannya terhadap simbol, gambar dalam emoticon itu," ia melanjutkan.

Di sisi lain, umumnya dosen pembimbing skripsi merupakan dosen senior. Beberapa topik yang ramai di kalangan mahasiswa sering kali tidak menjadi perbincangan bagi para dosen. Perbedaan isu tersebut juga turut memicu timbulnya mis-interpretasi.

"Orang-orang senior itu orang gaptek. Apa yang suka populer menjadi wacana keseharian anak-anak mahasiswa, kadang orang-orang tua itu nggak dong (paham). Karena nggak dong, bisa menimbulkan mis-interpretasi itu," terang Suranto.

Tangkapan layar medsos chat dosen 'Kok kamu atur saya', Kamis (20/8/2020).Membaca Lagi Chat Dosen 'Kok Kamu Atur Saya' yang Heboh di Twitter Foto: Tangkapan layar medsos chat dosen 'Kok kamu atur saya'

Terpisah, Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Faturochman mengatakan dugaan miskomunikasi antara mahasiswa dengan dosen itu terjadi karena beda cara berkomunikasi masing-masing generasi. Selain itu, kompleksitas substansi pesan hingga faktor psikologis komunikan dan komunikator juga berpengaruh terhadap proses komunikasi.

"Kita ini semua berada dalam kondisi cemas. Kita memiliki kecemasan yang tertekan, tersimpan, atau pura-pura tidak disadari. Nah itu konteksnya. Jadi itu akan membuat komunikasi itu jadi tidak mudah," kata Prof Faturochman saat dihubungi detikcom, Kamis (20/8).

Untuk meminimalisir miskomunikasi itu, Faturochman membagikan tips untuk mengatasi kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Yang pertama, baik dosen maupun mahasiswa seyogyanya bisa saling memahami masalah antar generasi. Yang kedua, belajar untuk memperbaiki karena semuanya membutuhkan waktu.

"Substansi juga dilihat, makin kompleks substansinya juga perlu mempelajari. Mengangkat substansi menjadi lebih mudah dipahami," lanjutnya.

Ketiga, memahami kondisi terutama masalah psikologis yang saat ini dialami akibat pandemi COVID-19. Keempat, ketika terjadi ketegangan dalam komunikasi, ada baiknya untuk berhenti sebentar dengan memberikan jeda waktu. Hal tersebut juga dapat membantu untuk menjaga komunikasi.

"Kalau tetap menjaga komunikasi lama-lama jadi tahu style-nya, jadi tahu ini kayaknya nggak pas waktunya. Artinya butuh waktu untuk paham," jelas Faturochman.

"Kalau sudah tinggi jeda saja, nanti minta maaf atau nuwun sewu dulu. Nanti sudah biasa aja," pungkas Faturochman.

Halaman

(ams/ams)