Kirab Kebo 1 Suro Simbol Tolak Bala, Ditiadakan Justru ketika Pandemi Datang

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 19 Agu 2020 21:28 WIB
Kirab kerbau bule di malam 1 Suro, Solo, Selasa (11/9/2018).
Kirab kerbau bule di malam 1 Suro di Solo, Selasa (11/9/2018). (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Pandemi virus Corona atau COVID-19 dan malam 1 Suro mengingatkan kembali pada sejarah era Kerajaan Demak pada abad ke-15. Sejarah mencatat bahwa wabah penyakit juga pernah terjadi pada masa itu. Mengorbankan hewan kerbau kemudian dipercaya sebagai penolak bala.

Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Puger menceritakan bahwa pada masa itu terjadi pagebluk atau yang kini juga dikenal sebagai pandemi. Para petinggi kerajaan dengan para wali berdialog mencari solusi memusnahkan pagebluk.

"Dengan melihat sejarah masa lalu, Sultan Patah yang merupakan pemimpin kerajaan Islam memutuskan salah satunya menggelar kirab pusaka. Karena pusaka dianggap berhubungan dengan Tuhan," kata Puger saat dihubungi detikcom, Rabu (19/8/2020).

Selain itu, dilakukan pula upacara mahesa lawung, yakni mengorbankan kerbau sebagai penolak bala. Hal ini berkaitan dengan kisah pewayangan ketika Yudhistira melakukan bersih-bersih seusai perang Bharatayuda dengan cara mengorbankan kuda.

"Di Demak, diputuskan mengorbankan kerbau, yang disebut mahesa lawung. Dengan upacara ini, pagebluk pun sirna sehingga kehidupan kembali normal," kata dia.

Tradisi tersebut terus dilakukan turun-temurun dari Kerajaan Demak hingga Keraton Surakarta. Kerbau kemudian selalu diikutkan dalam kirab sebagai simbol.

Selain tanda sebagai masyarakat agraris, kerbau juga merupakan pengingat atas sejarah masa lalu. Puger mengatakan peristiwa tersebut juga bisa dikaitkan dengan masa sekarang.

"Artinya kerbau itulah yang dulu dikorbankan untuk menolak wabah. Sekarang digunakan sebagai simbol dalam kirab. Lalu bagaimana untuk menolak wabah ini? Pemerintah harus berdialog dengan keraton, dengan semua pihak untuk mencari solusi," kata dia.

Puger menjelaskan bahwa sebenarnya kirab pusaka awalnya digelar setiap hari Kamis atau malam Jumat. Itu pun dalam skala kecil, yakni mengelilingi keraton saja.

Bahkan dalam perjalanannya, saat kepemimpinan Pakubuwono XII, kirab sempat dihentikan karena masyarakat sudah tidak memahami makna kirab. Namun pemerintah memberikan atensi, bahwa kirab harus kembali berjalan, terlebih bisa meningkatkan pariwisata.

"Setelah itu lingkupnya diperbesar, jumlah pusaka bertambah, peserta bertambah. Dan kemudian diambilah momen malam 1 Suro untuk dilakukan kirab pusaka dan kerbau," katanya.

Namun di masa pandemi Corona ini, Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran, Solo tidak menggelar tradisi kirab pusaka malam 1 Suro. Pandemi COVID-19 menjadi alasan tak digelarnya kirab budaya tersebut.

"Kirab pusaka tahun ini ditiadakan karena pandemi, kan rawan sekali kalau berdesak-desakan," kata Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta, KRA Dani Narsugama Adiningrat saat dihubungi wartawan, Rabu (19/8).

Selanjutnya
Halaman
1 2