Round-Up

Janji Polisi: Perburuan Penyerang Doa Nikah di Solo Terus Berlanjut!

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 09:00 WIB
Tersangka penyerangan anak Habib Umar Assegaf bertambah jadi 5 orang, Solo, Kamis (13/8/2020).
Para tersangka penyerangan doa pernikahan di Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Hingga hari kelima pasca penyerangan acara doa menjelang pernikahan putri Habib Umar Assegaf di Solo, polisi telah menangkap tujuh orang terduga pelaku. Namun polisi menegaskan akan terus memburu para pelaku lainnya yang turut melakukan pengeroyokan dan perusakan.

Jumlah tersebut bertambah dua orang dari sebelumnya. Para terduga pelaku ialah BD, MM, MS, ML, RM, N dan A.

"Jadi dari sejak kejadian, kami sudah mengamankan 7 orang diduga pelaku," ujar Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak di kantornya, Kamis (13/8/2020).

Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi juga merilis adanya tambahan tersangka. Dari empat tersangka, kini jumlahnya bertambah satu, menjadi lima orang tersangka.

"Yang bisa kita tingkatkan lagi menjadi tersangka satu, sehingga lima sudah menjadi tersangka yang dua masih kita dalami lagi," kata Kapolda Jawa Tengah, Irjen Ahmad Luthfi di Mapolresta Solo, Kamis (13/8/2020).

Polisi juga sudah memeriksa sebanyak 35 saksi kasus tersebut. Mereka terdiri dari korban hingga masyarakat yang berada di lokasi kejadian.

"Saksi sudah kita periksa 35 orang dari masyarakat yang melihat mendengar dan sebagainya," kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi dalam jumpa pers di Mapolresta Solo, Kamis (13/8/2020).

Terkait motif pelaku melakukan penyerangan, Kapolda masih enggan menyampaikan. Motif pelaku akan disampaikan ketika para tersangka sudah terkumpul. "Motif akan disampaikan saat tersangka kumpul," kata Kapolda.

Dalam kesempatan ini, Luthfi kembali menegaskan akan terus mengejar seluruh pelaku. Namun, dia juga mengimbau agar pelaku sebaiknya menyerahkan diri.

"Oleh karena itu saya imbau untuk segera menyerahkan diri atau kita tangkap. Saya ulangi, negara tidak boleh kalah oleh, intoleransi oleh radikalisme dan premanisme yang terjadi di wilayah hukum Polda Jawa Tengah," tegas dia.


Selanjutnya: Keterangan pengacara tersangka

Selanjutnya
Halaman
1 2