Ramai Kotak Kosong Vs Gibran, Mudrick Sangidoe: Tak Perlu Pilkada di Solo!

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 15:28 WIB
Ilustrasi Bilik Suara
Foto: Ilustrasi pilkada. (Pradita Utama)
Solo -

Tokoh reformasi 1998 asal Kota Solo, Mudrick Sangidoe, menanggapi pencalonan Gibran Rakabuming Raka di Pilkada Solo. Dia menanggapi satire atas dominasi Gibran dan kemunculan gerakan kotak kosong.

Dihubungi detikcom, tokoh pendiri Mega Bintang itu menilai Pilkada Solo 2020 saat ini sudah selesai. Sehingga gelaran Pilkada Solo nanti bisa dikatakan hanya formalitas belaka.

"Kotak kosong sudah tidak perlu, Pilkada juga sudah tidak perlu, wong sudah pasti menang. Sekalian saja diberi SK untuk dua periode, atau seumur hidup sekalian," Mudrick, Jumat (7/8/2020).

Tanggapan tersebut juga merupakan salah satu bentuk kekecewaan dirinya atas kegagalan Achmad Purnomo maju ke Pilkada Solo. Dia sebelumnya mendukung Purnomo dan menolak Gibran dalam proses internal di PDIP.

Dia menilai pemilihan Gibran menjadi bakal calon Wali Kota Solo cukup aneh. Sebab Purnomo yang merupakan kader senior PDIP dianggap lebih mumpuni daripada Gibran.

"Purnomo kan sudah digadang-gadang dari internal partai. Tapi tiba-tiba anak presiden muncul dan terpilih, ini kan aneh. Ya sudah, pek en kabeh (ambil saja semua)," ujarnya.

Soal kotak kosong, Mudrick menilai peluangnya kecil. Dia melihat masih ada calon independen yang mungkin lolos persyaratan KPU.

"Kan isunya ada calon boneka, daripada lawan kotak kosong. Kalau saya lebih baik tidak usah pilkada, daripada ribet, hasilnya sudah jelas," pungkasnya.

Sebelumnya diberiitakan, potensi calon tunggal di Solo memang cukup besar karena hampir seluruh partai mendukung Gibran. Meskipun, belum seluruh partai menyerahkan dukungan secara resmi.

Di sisi lain, satu pasangan bakal calon dari perseorangan masih harus melewati proses di KPU Solo. Kini mereka memasuki tahap perbaikan syarat dukungan.

Dukungan untuk kotak kosong salah satunya datang dari aktivis budaya Kota Solo Zen Zulkarnaen. Menurutnya, kemunculan sosok calon tunggal adalah bukti sistem demokrasi yang tidak berfungsi.

"Saya pikir kalau tidak ada penyeimbang, itu tidak sehat untuk demokrasi. Saya mendorong kotak kosong dalam konteks seperti itu. Jadi ada pihak yang mengkritisi dalam konteks demokrasi," kata Zenzul, sapaannya, saat dihubungi detikcom, Kamis (6/8).

Tonton video 'Aktivis Solo Kampanyekan 'Kotak Kosong' untuk Lawan Gibran-Teguh':

[Gambas:Video 20detik]