Round-Up

Ada Sekolah 'Sembunyi' di Brebes, Demi Membantu Siswa Tak Punya HP

Imam Suripto - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 07:27 WIB
SMP Negeri 2 Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah, sudah hampir tiga pekan ini menggelar sekolah tatap muka karena banyak siswa tidak punya smartphone.
Sekolah tatap muka diam-diam di SMPN 2 Jatibarang (Foto: Imam Suripto/detikcom)
Brebes -

SMP Negeri 2 Jatibarang, Brebes, Jateng, hampir tiga pekan terakhir menggelar kegiatan belajar tatap muka. Pembelajaran tatap muka ini dilakukan secara diam-diam di tengah pandemi COVID-19. Pihak sekolah beralasan, pembelajaran tatap muka (PTM) ini dilandasi desakan para wali murid.

Wakil Kepala SMP Negeri 2 Jatibarang, Iman Rifai saat ditemui di tempat kerjanya Rabu (4/8/2020) siang menjelaskan, PTM ini digelar karena desakan dari sebagian besar orang tua atau wali murid. Mereka meminta agar pihak sekolah membuka kembali kelas untuk belajar secara tatap muka.

"Kami semua sebenarnya sangat menyadari, saat ini masih dalam masa pandemi. Seharusnya pembelajaran dilakukan secara daring. Namun pada kenyataannya, daring tidak bisa berjalan lancar. Sehingga banyak orang tua meminta ke kami supaya tatap muka. Bahkan sudah menandatangani surat pernyataan," ungkap Iman Rifai.

Wali murid beralasan, pembelajaran metode daring tidak bisa diikuti karena ketersediaan jaringan internet di tempat tinggal siswa. Di sekolah ini, banyak siswa tinggal di daerah yang belum terjangkau jaringan internet. Kalaupun ada jaringan, itu pun sangat lemah dan tidak bisa mendukung siswa belajar daring.

Alasan lain dan paling krusial adalah banyak siswa yang tidak memiliki HP atau laptop. Menurut pihak sekolah, tidak sedikit murid di SMP Negeri 2 Jatibarang ini berasal dari keluarga tidak mampu atau menengah ke bawah.

Imam menyebut, dari 960 siswa, sekitar 10-15 persen tidak memiliki HP. Mereka rata-rata dari kalangan keluarga tidak mampu atau menengah ke bawah. "Jika membantu paket kuota untuk siswa itu bisa diambil dari dana BOS. Tapi jika harus membelikan siswa HP sebanyak 100 atau 150 unit untuk siswa, itu jelas menyalahi aturan," tambahnya

Agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak Gugus Tugas COVID-19, pihak sekolah sengaja menggelar PTM ini secara sembunyi-sembunyi. Caranya, siswa tidak diperbolehkan mengenakan seragam saat berangkat sekolah.

"Terus terang, ini sudah hampir tiga minggu berjalan. Sengaja kami belajar sembunyi sembunyi. Siswa tidak boleh pakai seragam. Sebelum ketahuan, tidak ada yang tahu bahwa di sini ada tatap muka, termasuk dari Gugus Tugas Kecamatan. Kami khawatir akan jadi masalah," Iman Rifai menambahkan.

Pembelajaran tatap muka di sekolah ini, lanjut Wakasek, dilakukan dengan cara bergiliran. Shift pertama kelas 7 masuk jam 07.00 dan pulang 09.30. Kelas 8 masuk 08.00 sampai 10.30 dan kelas 9 masuk jam 08.30 sampai 11.30 WIB.

"Kami menerapkan protokol kesehatan. Wajib masker dan cuci tangan. Setiap kelas juga maksimal diisi 16 orang karena bergliran. Setiap minggu siswa berangkat tiga kali," terang Wakasek.

Tonton video 'Sekolah di Cilegon Berlakukan Tatap Muka Hanya 2 Jam Pelajaran':

[Gambas:Video 20detik]



Ditemui usai pelajaran, Siti Husnul Khotimah, siswi kelas 7 asal Desa Bulakpacing mengaku senang bisa kembali sekolah. Alasanya, siswi ini tidak bisa mengikuti pelajaran daring karena tidak memiliki HP android.

"Senang aja bisa sekolah lagi, ketemu teman teman. Kalau belajar dari rumah, saya tidak bisa ikut karena tidak punya android," ucapnya.

Sejumlah orang yang ditemui saat jemput anaknya mengatakan, PTM ini memang atas permintaan wali murid. Sugiarteni (45) warga Desa Klampis menjelaskan, Alfrisco Eki Satrio Legowo, anaknya, tidak bisa mengikuti proses belajar jarak jauh.

"Saya salah satu yang minta tatap muka. Kalau proses belajar di rumah, anak saya kesulitan. Banyak hal yang kurang bisa dipahami. Malah sempat anak minta supaya ada kelas privat, tapi saya tidak punya uang untuk bayar pengajar," kata dia beralasan.

Alasan lain diutarakan Siti Nur Maemunah (38) warga Desa Pamengger. Kata dia, Maulida Milatina Fajwa, anaknya, sering menangis karena tidak bisa mengikuti daring secara lancar. Alasannya karena terkendala sinyal internet yang lemah.

Diwawancara terpisah, Sekretaris Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Brebes, Djoko Gunawan mengatakan, kondisi masyarakat Brebes tidak semuanya bisa mendukung pembelajaran secara daring. Terutama yang tidak punya HP atau Laptop. Pihaknya mengaku sangat menyadari kondisi ini.

Terkait adanya sekolah yang sudah melakukan tatap muka, Djoko Gunawan mengaku memakluminya. Akan tetapi pelaksanaanya harus sesuai protokol kesehatan.

"Pada kenyataannya masih banyak yang belum bisa mengikuti pelajaran secara daring karena tidak ada sarananya. Kami gugus tugas sangat memaklumi hal ini. Apalagi sudah ada pernyataan dari wali murid," pungkasnya.

(mbr/mbr)