Cak Nun Mengenang Sapardi Djoko Damono: Penyair Semurni Puisinya

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Senin, 20 Jul 2020 15:31 WIB
Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono. (Foto: Tia Agnes/detikhot)
Yogyakarta -

Mendung hitam menyelimuti dunia sastra Indonesia. Penyair Sapardi Djoko Damono (SDD) berpulang pada Minggu (19/7) di usia 80 tahun. Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun mengenang senior yang disebutnya sebagai sang mentor itu sebagai penyair yang murni.

Kepergian Sapardi meninggalkan duka mendalam bagi dunia sastra Indonesia. Kontribusi penyair yang kondang dengan sajak 'Aku Ingin' dan 'Hujan Bulan Juni' itu tak diragukan lagi.

Karya-karyanya disukai lintas generasi dari berbagai segmen. Banyak anak muda yang mengutip sajak-sajak cinta yang ditulis Sapardi. Kata-kata dalam sajak itu meluncur deras dan menyejukkan. Banyak kenangan yang hadir dari sajak-sajak Sapardi.

Penyair yang juga budayawan, Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun pun punya kenangan pada sosok penyair rendah hati itu.

"Saya itu mengalami masa Mas Sapardi itu 40-50 tahun lalu waktu saya masih belajar menulis puisi dan Pak Sapardi sebagai mentor saya. Dia membuat workshop penulisan puisi di Semarang," kata Cak Nun saat dihubungi detikcom, Senin (20/7/2020).

Cak Nun mengenal sosok Sapardi lebih dekat melalui karya-karya penyair kelahiran Solo itu. Baginya, Sapardi merupakan orang yang jujur dan tenang dalam berkarya.

"Sapardi itu seperti karyanya, tenang, tidak aneh-aneh, tidak politis, tidak mentang-mentang. Dia itu puisinya murni. Karena ada orang nulis puisi karena ingin menjadi penyair kemudian mau jadi penyair yang seperti apa, Mas Sapardi itu menurut saya penyair yang murni," ungkapnya.

Baginya, Sapardi menulis puisi bukan untuk kemudian sengaja dikenal publik. Namun, Sapardi menulis puisi karena jiwanya seperti itu. Oleh karena itu dia menyebut puisi Sapardi puisi yang murni karena keluar dari jiwa si penulis.

"Jadi ada penyair yang dikenal karena puisinya, ada penyair yang dikenal karena kiprahnya secara sosial, budaya, atau politik, Sapardi itu tidak menulis puisi untuk berkiprah, dia menulis puisi karena memang jiwanya seperti itu," tegasnya.

"Orang mengenal Sapardi itu benar-benar dari puisi," lanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2