Kata Pakar UGM soal Pedagang Ludahi Bakso Cuanki Ngaku untuk Penglaris

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 26 Jun 2020 15:39 WIB
Dosen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Abdul Jawat Nur
Dosen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Abdul Jawat Nur (Foto: dok. pribadi)
Yogyakarta -

Pedagang bakso cuanki di Kembangan, Jakarta Barat, mengakui meludahi makanannya untuk penglaris. Pedagang bernama Windra Suherman itu mengaku mendapatkan perintah 'ritual' dari guru spiritualnya di Jawa Barat. Apa kata pakar UGM?

"Menurut sebagian kepercayaan masyarakat, memang ada yang menjalankan praktik semacam itu untuk penglarisan, diludahi sambil dibacakan mantra tertentu. Harapannya, makanannya bisa laris," kata dosen Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Abdul Jawat Nur, kepada detikcom, Jumat (26/6/2020).

Jawat menyebut praktik meludahi makanan sudah lama ada. Meski begitu, Jawat tidak mau menyebut pedagang daerah mana saja yang melakukan praktik ini.

"Saya tidak bisa tunjuk daerahnya ya. Banyak pedagang makanan yang menggunakan mantra penglaris," terangnya.

Dia mengungkap salah satu ciri warung yang pakai mantra penglaris. Salah satu cirinya, kata Jawat, makanannya enak dimakan di warung tapi hambar saat dibawa pulang.

Jawat menceritakan ada juga praktik pengobatan menggunakan ludah. Dia menyebut ludah dari tokoh atau yang disebut guru itu digosokkan ke kedua tangannya lalu diusapkan ke pasien yang sakit. Dia menyebut penggunaan mantra sudah lama dikenal di Indonesia.

"Mantra itu macam-macam. Sebelum agama masuk ke Indonesia, bangsa kita sudah punya mantra. Mereka percaya dengan hal-hal yang metafisik di luar kemampuan manusia, dan mereka meminta bantuannya melalui mantra," jelasnya.

Tonton juga video 'Pedagang Cuanki Akhirnya Ngaku Ludahi Pesanan buat Penglaris':

Selanjutnya
Halaman
1 2