Kisah Relawan Pemulasaraan Jenazah Corona yang Pilih Isolasi di Tangki Air

Dian Utoro Aji - detikNews
Rabu, 24 Jun 2020 17:47 WIB
Salah satu relawan pemulasaraan jenazah, Kristanto (39) saat tiduran di tangki air di kantor BPBD Kudus, Rabu (24/6/2020).
Salah satu relawan pemulasaraan jenazah, Kristanto (39) saat tiduran di tangki air di kantor BPBD Kudus, Rabu (24/6/2020). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Tugas relawan pemulasaraan jenazah dengan protokol pasien virus Corona (COVID-19) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus diwarnai suka duka. Seperti yang dirasakan salah satu relawan, Kristanto (39).

Kristanto menjadi relawan di BPBD Kudus sejak tahun 2006 silam. Saat ini ia menjadi tim pemulasaraan jenazah virus Corona. Suka dan duka ia rasakan saat menjadi tim untuk mengurusi jenazah pasien virus Corona.

"Suka duka, kalau dukanya kalau dari tim desa tidak ada, harus sendiri pemakaman dari memasukkan jenazah sampai pengurukan itu. Senangnya sih bisa menolong membantu orang belum kita kenal begitu," kata Kristanto saat ditemui di kantor BPDB Kudus, Rabu (24/6/2020).

Gundul, begitu sapaan akrabnya oleh teman-teman relawan, mengatakan semenjak tiga bulan terakhir ia bersama timnya harus bekerja keras. Apalagi, jumlah orang meninggal dengan pemakaman protokol virus Corona meningkat. Bahkan dalam sehari bisa memakamkan sejumlah jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) ataupun pasien yang terkonfirmasi positif Corona.

"Sehari sampai empat lima orang pernah. Itu karena ada beberapa rumah sakit yang bekerja sama dengan BPBD dengan kami," terang pria yang tinggal di Desa Peganjaran RT 1 RW 3, Kecamatan Bae ini.

Menurutnya, dalam pelaksanaan pemulasaraan jenazah selalu dilengkapi dengan alat pelindung diri secara lengkap. Tidak hanya itu, protokol kesehatan seperti mandi, hingga minum vitamin ia lakukan. Karena pekerjaannya sangat rentan risiko ancaman kesehatan.

"Rapid (test)sudah, swab belum. Hasilnya negatif," kata dia.

Ketika menjadi tim pemulasaraan ia tidak berpikir untuk mendapatkan upah. Ia semata-mata bekerja membantu orang lain.

"Ya kalau pada dasarnya relawan tidak meminta upah. Kita memang dari hati membantu pemakaman COVID-19 dari beberapa daerah begitu pemakaman yang sangat riskan dari tim membantu itu," kata Gundul.

Tidak sampai di situ, Gundul harus rela jauh dari keluarganya. Ia harus melakukan isolasi mandiri. Uniknya, bapak dua anak ini memilih isolasi mandiri di dalam tangki air di kantor BPBD Kudus.

Selanjutnya
Halaman
1 2