Salut! Difabel Ini Tempuh Klaten-Yogya Jajakan Kerak Nasi dan Tisu

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 16:39 WIB
Andika Indra Saputra saat ditemui di Prambanan, Klaten, Jumat (19/6/2020).
Andika Indra Saputra saat ditemui di Prambanan, Klaten, Jumat (19/6/2020). (Jauh Hari Wawan S/detikcom)
Klaten -

Keterbatasan fisik bukan menjadi alasan seseorang untuk hanya berpangku tangan dan menunggu turunnya bantuan. Andika Indra Saputra (33), warga Boyolali, yang saat ini tinggal bersama neneknya di Dusun Banjarsari, Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten, menunjukkan bukti bahwa rezeki bisa didapatkan asalkan mau berusaha.

Pria kelahiran Cirebon yang mengidap tunagrahita sejak usia 1 tahun itu belum merasakan bantuan dari pemerintah. Bantuan hanya hadir dari pihak swasta maupun komunitas yang peduli terhadap kondisi kaum difabel.

"Bantuan pemerintah belum ada sama sekali. Kalaupun ada, itu dari swasta. Bentuknya kadang uang, kadang sembako," kata Andika saat ditemui di Prambanan, Klaten, Jumat (19/6/2020).

Andika, begitu dia disapa, memilih berusaha semampunya. Berjualan menjadi salah satu alternatif yang bisa dia lakukan. Apalagi saat ini dia punya tanggungan istri dan seorang putri yang masih bayi.

"Daripada saya menunggu (bantuan) pemerintah, alangkah baiknya berusaha sendiri. Ini juga untuk menghidupi keluarga. Saya punya istri dan seorang putri usianya baru 3 bulan mau empat bulan di Boyolali," ungkapnya.

Selama masa pandemi Corona ini, praktis Andika tidak memiliki penghasilan. Apalagi empat bulan dia harus menetap di Boyolali, di rumah istrinya, karena dirumahkan oleh perusahaan batik di daerah Bantul.

"Sebelumnya, saya kerja di perusahaan batik tulis di Bantul yang isinya difabel semua. Tapi empat bulan ini dirumahkan, jadi saya tidak punya penghasilan," bebernya.

Selama berada di Boyolali, dia mengandalkan uang yang ada di tabungan untuk bertahan hidup dan membelikan susu untuk anaknya.

"Ya kami ada tabungan, karena dulu waktu menikah tahun 2018 saya mengajak istri untuk menabung. Ya ini lumayan untuk membelikan susu anak karena ASI istri tidak keluar," ungkapnya.

Kini dia menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Sebab, sang istri juga memiliki keterbatasan fisik, sama seperti dia.

"Istri juga punya keterbatasan, alhamdulillah anak normal dan sehat," terangnya.

Untuk mencukupi kebutuhan, kerak nasi atau orang Jawa menyebut lempeng dan tisu menjadi barang yang dia jual. Andika menyebut saudaranyalah yang menyuplai kedua barang itu.

"Kalau kerak ini ambilnya di Boyolali, tisu di Maguwoharjo. Semuanya ambil dari saudara. Jadi, kalau ada yang pesan, baru saya ambilkan barangnya dan saya antar," tuturnya.

Tonton juga video 'Mahasiswa UMI Makassar Bikin Masker 3D dari Sari Pati Jagung':

Selanjutnya
Halaman
1 2