14 Pasien Corona Klaster Temboro Dijemput Paksa, Pemkab Blora Buka Suara

Febrian Chandra - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 17:17 WIB
Klinik Bhakti Padma Blora dipadati keluarga pasien virus Corona. Mereka memaksa agar keluarganya yang dirawat di klinik itu untuk bisa dipulangkan hari ini juga.
Keluarga jemput paksa belasan pasien Corona di Klinik Bhakti Padma, Blora, Selasa (16/6/2020). (Foto: Febrian Chandra/detikcom)
Blora -

Sebanyak 14 pasien virus Corona atau COVID-19 dari klaster Temboro, Magetan, Jawa Timur yang dirawat di sebuah klinik di Blora, Jawa Tengah dijemput paksa oleh keluarganya hari ini. Pemkab Blora akhirnya buka suara atas kejadian ini.

"Ada beberapa yang protes ingin menjemput pasien yang sudah lama menjalani isolasi dan belum sembuh-sembuh di Klinik Bhakti Padma. Memang ini butuh kesabaran yang luar biasa termasuk kondisi psikis. Kalau memang memaksa untuk isolasi mandiri di rumah, syaratnya satu harus disiplin ketat jangan sampai keluar rumah," ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Lilik Hernanto.

Hal ini disampaikan Lilik kepada wartawan dalam jumpa pers di Posko Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Blora, Selasa (16/6/2020).

Dia mengimbau keluarga harus mengawasi para pasien dengan ketat dan dikontrol oleh petugas kesehatan. Kalau belum dinyatakan sembuh secara tes swab sebanyak dua kali berturut-turut, maka pasien tersebut harus tetap diisolasi.

"Sembuh itu secara klinis dan secara laboratoris. Memang secara klinis tubuhnya sehat. Namun secara laboratoris pasien masih mengandung virus di dalam tubuhnya. Apalagi banyak pasien kita berasal dari orang tanpa gejala atau OTG yang tubuhnya sehat. Ini yang bahaya jika keluar rumah bisa menulari yang lain. Kalau memang memaksa pulang, isolasi diri di rumah, maka pengawasannya harus ketat," kata Lilik yang juga Jubir Gugus Tugas Penanganan dan Percepatan COVID-19 Blora ini.

Pemkab Blora, kata Lilik, akan tetap memastikan dan memantau para pasien tersebut sambil menunggu hasil swab selanjutnya. Dia juga mengimbau warga untuk tidak mendiskriminasi para pasien dan keluarganya.

"Meskipun PCR positif, selama kita tidak jabat tangan, tidak kontak langsung, jaga jarak, pakai masker, tetap aman. Tidak takut berlebihan dan tidak dikucilkan. Ini penting. Mereka justru harus dibantu dengan dukungan sosial dari tetangga. Ini menjadi obat yang bagus bagi mereka yang menjalani isolasi di rumah agar psikisnya membaik," papar Lilik.

"Kami ingatkan lagi, mereka semua adalah saudara kita. Harus didukung, dan di-support. Dukungan seperti ini secara ilmiah 85 persen bisa mempengaruhi proses penyembuhan mereka," lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Lilik menyampaikan ada penambahan 10 kasus positif Corona di Blora. Sehingga total kasus positif virus Corona di Blora saat ini sebanyak 40 kasus.

"Dengan rincian 31 dirawat, 6 sembuh dan 3 meninggal. Sedangkan reaktif rapid test turun menjadi 69, PDP masih ada 6 yang diawasi, ODP ada 27 yang dipantau, dan OTG ada 88," ucapnya.

Lilik menjelaskan 10 kasus baru virus Corona di Blora diketahui setelah 32 hasil pemeriksaan swab keluar hari ini. Sehingga ada 22 orang yang mengikuti tes swab yang hasilnya negatif Corona.

Dari 10 kasus baru virus Corona tersebut, lanjut Lilik, terdiri dari 8 orang tanpa gejala (OTG) dari rapid test massal di pasar, dan fasilitas umum lainnya. Sedangkan dua orang sisanya sebelumnya merupakan orang dalam pemantauan (ODP), salah satunya ibu akan melahirkan dan satu orang dengan penyakit penyerta. Lilik menilai fakta ini menjadi peringatan untuk masyarakat agar tetap hati-hati karena masih ada penularan virus Corona di Kabupaten Blora.

"Dari pedagang Pasar Sido Makmur ada dua pedagang yang positif (virus Corona), selebihnya tersebar. Dari 10 kasus ini Kecamatan Blora 3, Tunjungan 4, Banjarejo 1, dan Cepu 2," urai Lilik.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 14 pasien Corona yang dirawat di Klinik Bhakti Padma, Blora dijemput paksa keluarganya pada siang hari tadi. Direktur RSUD dr Soetijono Blora, Nugroho Adiwarsono mengungkap keluarga pasien memaksa agar pasien bisa dirawat di rumah.