Sultan HB X Beberkan Makna Berdamai dengan Corona Hingga New Normal

Pradito Rida Pertana - detikNews
Selasa, 02 Jun 2020 14:09 WIB
Sultan Menyapa Jilid 7, 2 Juni 2020
Sri Sultan HB X (Foto: Dok. Humas Pemda DIY)
Yogyakarta -

Raja Kesultanan Yogyakarta yang juga Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, kembali menyampaikan pesan kepada warganya. Kali ini adalah pesan yang ketujuh sejak terjadinya pandemi Corona atau COVID-19. Sultan memberi makna tentang ruang kesunyian, berdamai dengan COVID-19 hingga persiapan menuju tatanan normal baru (new normal).

Sultan HB X menyapa masyarakat melalui program #SultanMenyapaJilid7. Dalam sapaan bertajuk 'Dengan Modal Sosial, Bangun Tatanan Baru' ini, Sultan meminta masyarakat untuk meningkatkan solidaritas dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Berikut isi dari #SultanMenyapaJilid7:

#SultanMenyapaJilid7
DENGAN MODAL SOSIAL, BANGUN TATANAN BARU

Assalamualaikum wr.wb
Salam sejahtera untuk kita semuanya,

Suwung, seakan kita masuk ke dalam labirin kesunyian. Isinya hanya kesenyapan tanpa batas. Dalam suwung, kita tak tahu harus berbuat apa. Inilah gambaran umumnya masyarakat yang dilanda kecemasan tak menentu.

Tuhan sebagai Suwung, Kemahasadaran dan Kemahakuasaan yang Memangku dan Meliputi seluruh keberadaan-Nya, dalam paham Jawa disebut: Suwung Hamêngku Ânâ. Ketika difikir, Dia seakan tiada. Ketika masuk di alam suwung, terasakan Dia ada. Ketika manusia paham tentang hakikat keTuhanan, maka kecemasan itu pun mereda, karena keyakinan akan ada-Nya. Itulah saat dimana hubungan vertikal mencapai puncak spiritual, luluh dalam manêmbah-nya insan ke haribaan Sang Khalik, yang sebelum ini terlupakan. Karena kita lebih mengedepankan agama masing-masing daripada berkhidmat ke hadirat-Nya.

Secara horizontal, perlu meningkatkan kolaborasi, solidaritas dan partisipasi antarwarga untuk bertahan hidup. Karena keberadaan COVID-19 ini tak tertolakkan. Kehadirannya pun selalu menyertai kita, dimana pun kita berada. Sedangkan kapan waktu selesainya pun belum bisa diprediksikan. Meski sosoknya tak tampak dan tak teraba, dan kita pun memusuhinya, mau tidak mau kita harus berdamai dan menuruti hidup harmoni dengannya. Pakai masker, cuci tangan dan menjauhkannya dari wajah, jaga jarak yang aman, diam di rumah dan berkegiatan di luar dimana perlu, serta menjauhi kerumuman.

Namun demikian, jika terbangun semangat kemenyatuan antara pemimpin dengan rakyat di semua level, hingga RT/Dusun, ibarat dalam medan perang, kita masih memiliki peluang untuk menang. Artinya, dalam menggalang kesiapsiagaan melawan COVID-19 pun, basis pertahanan yang diperkuat adalah di tingkat RT/Dusun. Jika ketahanan masyarakat dibangun dengan kekompakan dan disiplin diri dalam mematuhi protokol kesehatan, saya percaya, kita akan segera menggapai hari esok yang cerah di depan kita.

Itulah modal sosial warga masyarakat dan para birokrat yang kita miliki bersama. Konsekuensinya, aparat pemerintahan pun harus ikut berubah, dengan mematuhi protokol yang ditetapkan, disertai peningkatan layanan bagi masyarakat. Dalam bahasa milenial, inilah basis platform sebuah aplikasi sosial menuju Tatanan Kehidupan Baru di DIY. Dengan kesadaran diri seperti itu, niscaya setiap warga secara organis akan menata dirinya-sendiri.

Secara struktural setiap aparat paham akan kewajibannya, tanpa diiming-imingi hadiah, atau diancam hukuman. Semuanya mengalir secara alami, layaknya mbanyu mili, yang menjadi ruh dari kesadaran bersama untuk mengasah ketajaman akal-budi sebagai pengikat kohesi sosial dan keterpanggilan membantu liyan. Bersatunya rakyat dengan pemimpin di segala lini hingga RT/Dusun adalah modal 'Jogja-Gumrégah' untuk mengisi Tatanan Normal Baru.

Dan tiada lupa, marilah kita kobarkan Api Semangat Pantja Sila, 1 Juni 1945. Selamat Berjuang untuk Guyub dan Bangkit Bersama!

Sekian, terima kasih.
Waalaikumsalam wr. wb...

Selasa Wage, 2 Juni 2020
HAMENGKU BUWONO X

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2