Petugas Medis Corona di Sragen Diancam, Bupati Minta Polisi Usut Tuntas

Andika Tarmy - detikNews
Senin, 01 Jun 2020 20:33 WIB
S, tenaga medis Corona di Sragen yang mendapat ancaman via WA
S, tenaga medis Corona di Sragen yang mendapat ancaman via WA. (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Sragen -

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus intimidasi terhadap petugas medis Puskesmas Kedawung saat menangani pasien positif Corona (COVID-19). Pihaknya juga memastikan seluruh penanganan COVID-19 sudah sesuai prosedur dan tanpa diskriminasi.

"Terkait intimidasi terhadap tenaga kesehatan, kami di kabupaten sudah memberikan pendampingan. Kemarin sudah kami minta untuk lapor ke kepolisian dan sudah dilaporkan didampingi camat," ujar Yuni ditemui wartawan di balai Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Senin (1/6/2020).

Yuni melanjutkan, kasus intimidasi ini harus diselesaikan bersama aparat terkait. Karena siapa sebenarnya pelaku intimidasi tersebut hanya bisa dipastikan dengan penyelidikan kepolisian.

"Kita tidak bisa menyelesaikan sendiri karena kita tidak bisa mengetahui secara pasti, di situ kan disebut koordinator (menyebut salah satu klaster). Bisa saja bukan, bisa saja orang lain. Nah, ini harus detail sehingga kami minta kemarin untuk lapor ke kepolisian, tinggal kita tunggu hasilnya," terangnya.

Yuni melanjutkan, saat ini situasi sudah berangsur kondusif. Dalam artian, tidak ada lagi intimidasi lanjutan kepada petugas medis perempuan tersebut. Namun begitu, Yuni tetap meminta aparat kepolisian untuk menuntaskan pengungkapan kasus ini.

"Kita serius. Kalau kita sendiri yang ngawekani (menangani) kan nggak mungkin, sehingga kita serahkan pada APH untuk menyelidiki, harus sampai tuntas," tegasnya.

Menurut Yuni, masyarakat terdiri atas berbagai kelompok berbeda, yang membutuhkan model pendekatan berbeda pula. Meski begitu, pihaknya memastikan para tenaga medis menjalankan tugasnya dalam menangani COVID-19 sesuai prosedur.

"Masyarakat kan terdiri dari berbagai kelompok. Ada yang bisa dipahamkan dengan mudah, ada yang butuh agak dipaksa. Nah, (pelaku) ini mungkin kategori orang-orang yang merasa terintimidasi, padahal sebenarnya (niat) kita membantu. Tidak ada indikasi apa-apa, tidak ada diskriminasi," papar Yuni.

Sebelumnya diberitakan, S (50), seorang petugas medis perempuan di Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah mendapatkan intimidasi saat melakukan pelayanan terhadap salah satu pasien terkonfirmasi virus Corona (COVID-19) di wilayah tersebut. Pelaku melakukan intimidasi dengan kata-kata bernada ancaman yang dikirim melalui pesan singkat WhatsApp (WA) kepada petugas medis tersebut.

(mbr/mbr)