Limbah Medis di Purbalingga Dijual Ilegal dan Dijadikan Mainan Anak

Arbi Anugrah - detikNews
Rabu, 06 Mei 2020 13:15 WIB
Barang bukti limbah medis yang dijual ilegal di Purbalingga
Foto: Barang bukti limbah medis yang dijual ilegal di Purbalingga (dok. Istimewa)
Purbalingga -

Polsek Purbalingga Kota membongkar kasus perdagangan limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) ilegal di Kabupaten Purbalingga. Barang bukti berupa ratusan kilogram infus hingga ratusan suntikan bekas disita.

"Tersangka telah melakukan pengolahan limbah medis selama 35 tahun dan baru terbongkar setelah ada laporan dari warga," kata Kapolsek Purbalingga Kota, AKP Subagyo kepada wartawan, Rabu (6/5/2020).

Dia mengatakan jika pihaknya mengamankan tersangka, Hadi Turipno (57) warga Kelurahan Bojong, Kecamatan Purbalingga. Di lokasi juga ditemukan 161 kilogram botol infus dan ratusan suntikan bekas.

"Dari hasil penggeledahan kami menemukan 161 kilogram botol infus bekas yang dibungkus karung dan disembunyikan di kebun belakang rumah, serta tiga boks berisi ratusan suntikan dan botol vaksin," ucapnya.

Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku mendapatkan limbah medis tersebut dari sejumlah Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Cilacap, Pemalang dan Tegal. Salah satu limbah medis juga diperoleh dari seorang oknum pegawai Puskesmas Karangmoncol, Purbalingga.

"Tersangka mengaku mendapatkan limbah medis dari banyak faskes (fasilitas kesehatan) di Kabupaten Purbalingga, Wonosobo, Banjarnegara, Cilacap, Banyumas, Pemalang dan Tegal. Tapi barang bukti yang disita ini dari oknum di Puskesmas Karangmoncol, dibeli pada tanggal 23 Maret 2020," ujarnya.

Oleh tersangka, limbah medis itu dibersihkan dan diolah menjadi mainan anak-anak. Bahkan, limbah medis itu dijual bebas di pasaran.

"Limbah medis itu dikepul dan diolah di rumah tersangka, proses pengolahan mulai dari perebusan, pencucian, pengeringan hingga pengemasan," jelasnya.

Selain mengolah suntikan bekas untuk mainan anak- anak, tersangka juga menjual botol vaksin bekas menjadi botol parfum. Kemudian botol infus dijual lagi pada pengepul rongsok.

Kepada polisi, tersangka mengaku membeli infus bekas seharga Rp 3.000 per kilogram. Sementara ratusan suntikan dan botol vaksin dibeli seharga total Rp 30.000.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2