Profesor UGM Prediksi Puncak Pandemi Corona Mei, Mereda Akhir Juli

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Sabtu, 25 Apr 2020 19:05 WIB
Ilustrasi corona (Fauzan Kamil/detikcom)
Foto: Ilustrasi corona (Fauzan Kamil/detikcom)
Sleman -

Wabah virus Corona (COVID-19) di Indonesia diprediksi akan mereda pada akhir Juli 2020. Hal itu diungkapkan Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dedi Rosadi.

Bersama dengan pakar lainnya yaitu Heribertus Joko, alumnus FMIPA UGM, dan Fidelis I Diponegoro, alumnus PPRA Lemhanas, Dedi membuat permodelan probabilistik dengan dasar data nyata atau probabilistik data-driven model (PDDM), dengan asumsi waktu puncak tunggal.

"Rilis terbaru tersebut mengacu dengan data publikasi pemerintah hingga 23 April 2020. Dari data itu diperkirakan waktu puncak pandemi terjadi pada Mei 2020 dan pandemi akan mereda di akhir Juli 2020," kata Dedi dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/4/2020).

Sebelumnya, berdasarkan data pemerintah sampai 26 Maret 2020, pada akhir Maret 2020 lalu, Dedi dan tim telah merilis prediksi sementara akhir pandemi terjadi pada akhir Mei 2020 dengan total penderita positif COVID-19 mencapai 6.174 kasus. Prediksi menggunakan model PPDM tersebut bersifat sementara dan diperbaharui berkala sesuai data yang ada untuk prediksi jangka panjang.

Dedi menyampaikan akurasi model dengan parameterisasi dan hasil simulasi prediksi seperti di atas masih perlu dievaluasi dalam setidaknya 2 minggu ke depan. Hal itu dilakukan untuk melihat apakah terjadi tren penurunan yang konsisten atau justru menjadi tren naik. Namun, akurasi prediksi akan semakin baik jika puncak pandemi telah terlewati.

"Hasil prediksi yang diberikan di atas baru memotret data nasional sebagai satu entitas dan melakukan sejumlah simplifikasi. Misalnya, belum menggambarkan potensi penyebaran virus karena faktor kondisi geografis Indonesia berupa negara kepulauan," katanya.

Selain itu, Dedi menjelaskan, belum memodelkan efek pengaruh pengendalian dari pemerintah seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Namun secara umum, harus dipahami bahwa kesesuaian realitas masa depan dengan hasil simulasi model matematis (termasuk model PDDM) bergantung kepada banyak faktor yang kompleks.

"Secara matematis, semakin jauh dari titik pengamatan terakhir ketidakpastian prediksi masa depan akan semakin besar. Sebab, banyak faktor yang terus berubah dalam waktu di masa yang akan datang," ucapnya.