Curhat Kapoknya Pemudik Bandel yang Dikarantina di Rumah Hantu Sragen

Andika Tarmy - detikNews
Senin, 20 Apr 2020 19:41 WIB
Suasana rumah karantina khusus di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen, Senin (20/4)
Foto: Suasana rumah karantina khusus di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen, Senin (20/4) dok. Andika Tarmy
Sragen -

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati meminta pihak desa menyiapkan rumah kosong dan berhantu, untuk mengkarantina paksa para pemudik yang tidak menaati aturan karantina mandiri selama 14 hari. Salah seorang pemudik, Heri Susanto menceritakan awal mula dia jadi penghuni rumah angker.

"Anak saya minta mainan, semacam tenda-tendaan gitu. Lalu saya antar beli ke Sragen (kota). Pulangnya saya ketangkap sama Satgas (COVID-19 Desa Sepat). Saya ditarik gitu aja," ujar pria yang selama ini merantau di Lampung ini kepada detikcom di lokasi karantinanya, Kecamatan Masaran, Senin (20/4/2020).

Warga Desa Sepat, Kecamatan Masaran ini mengungkap dia akhirnya ditempatkan di lokasi karantina khusus. Dia juga mengaku menyesal tak disiplin menjalani karantina mandiri selama 14 hari seperti yang diminta pemerintah.

"Saya ikut aturan, lah. Saya menyesal. Terpaksa nggak bisa ketemu sama keluarga, tapi saya tahu ini demi keamanan," lanjutnya.