Pandemi Corona

Inovatif! Warga Sleman Ini Bikin Masker Transparan untuk Tuna Rungu

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 13:58 WIB
Pembuatan masker transparan untuk tuna rungu di Sleman, Jumat (17/4/2020).
Foto: Pembuatan masker transparan untuk tuna rungu di Sleman, Jumat (17/4/2020). (Jauh Hari Wawan S/detikcom)
Sleman -

Masker menjadi salah satu kebutuhan pokok di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19. Pemerintah saat ini telah mewajibkan untuk setiap masyarakat untuk mengenakan masker untuk menghambat penyebaran virus.

Hanya saja, setiap masker ternyata tidak ramah untuk para tuna rungu. Sebab mereka perlu untuk membaca gerak bibir dan menggunakan ekspresi wajah untuk berkomunikasi.

Sementara, masker yang beredar di pasaran saat ini menutup wajah sehingga para tuna rungu tidak bisa membaca gerak bibir dan ekspresi wajah. Hal itu akhirnya menjadi kendala warga tuna rungu dalam berkomunikasi.

Berawal dari persoalan itu, Dwi Rahayu Februarti (41) warga Dusun Gemawang RT 03 RW 044, Desa Sinduadi, Mlati, Sleman membuat masker transparan. Dibantu salah seorang penerjemah bahasa isyarat, detikcom berkomunikasi dengan Dwi yang tuna rungu.

"Masker itu untuk mempermudah komunikasi, karena kalau (masker) tutup total dari teman-teman tuli tidak bisa melihat ekspresi dan gerakan bibir jadi tidak bisa memahami komunikasinya," kata Dwi saat dijumpai di kediamannya di Sleman, Jumat (17/4/2020).

Ibu rumah tangga yang juga menjabat sebagai Ketua Gerakan Kesejahteraan Tuna Tungu Indonesia (Gerkatin) ini mengatakan awal pembuatan masker ini dimulai sejak beberapa pekan yang lalu. Yakni ketika dia mendapat info ada pandemi virus Corona yang menyebar di Indonesia.

"Setelah dapat informasi dari FB kalau ada penyebaran Corona dan harus pakai masker jadi langsung bikin masker. Kita dapat infonya telat sekitar 2 sampai 3 minggu yang lalu tahunya," jelasnya.

Masker yang dia buat, pada dasarnya sama seperti masker-masker pada umumnya. Hanya saja ada modifikasi khusus yakni ada material mika tebal yang dipasang sehingga gerakan mulut dan ekspresi wajah masih terlihat.

Dwi menerangkan awalnya dia hanya coba-coba. Namun, dia sudah punya dasar ilmu jahit.

"Saya awalnya latihan membuat masker hanya coba-coba aja, ketemu banyak hambatan," ungkapnya.

Hambatan yang dia alami yakni membuat masker itu presisi dengan wajah pemakai. Selain itu, ukuran mika yang digunakan juga harus sesuai dengan bentuk mulut pemakai.

"Ukuran mulut dan wajah beda-beda jadi kadang-kadang awal bikinnya nggak pas, tapi sekarang sudah bisa," bebernya.

Selain ukuran masker, bentuk masker juga dibuat berbeda. Awalnya, bagian transparan masker itu menempel di bibir sehingga membuat kesulitan berkomunikasi.

"Kami minta masukan seperti kemarin bagian yang transparan menempel di bibir akhirnya jahitan dibuat agak ke depan agar tidak nempel," jelasnya.

Simak video Lawan Penimbun, Ridwan Kamil Targetkan Produksi Masker 1 Juta Per Hari: