UGM Rancang Bilik Disinfektan Berbasis Udara Panas, Diklaim Lebih Aman

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 31 Mar 2020 17:24 WIB
Bilik disinfektan berbasis udara panas, Yogyakarta, Selasa (31/3/2020).
Foto: Bilik disinfektan berbasis udara panas, Yogyakarta, Selasa (31/3/2020). (Dok Prof Samsul Kamal)
Yogyakarta -

Penyemprotan cairan disinfektan untuk mencegah penyebaran Virus Corona atau COVID-19 terungkap memiliki sejumlah kekurangan. Untuk menjawab persoalan itu, Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat bilik disinfektan berbasis aliran udara panas.

"Departemen Teknik Mesin dan Industri FT UGM membuat bilik dengan basis aliran udara panas guna mengatasi berbagai kelemahan dalam bilik cara aerosol," ujar Guru Besar FT UGM, Prof Samsul Kamal dalam keterangan tertulisnya kepada detikcom, Selasa (31/3/2020) .

Samsul membeberkan sejumlah kekurangan dari bilik yang menyemprotkan cairan disinfektan. Bilik yang kini banyak dibuat dan dipakai secara massal itu digunakan dengan cara menyemprotkan cairan disinfektan ke dalam bilik sehingga menghasilkan aerosol atau droplets kecil cairan disinfektan di dalam udara.

"Harapannya adalah agar aerosol tersebut memenuhi seluruh ruangan bilik dan 'membunuh' droplet virus yang menempel pada permukaan-permukaan di atas," jelas Samsul.

Samsul menjelaskan, cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan sinar UV (ultra violet) di dalam bilik untuk maksud yang sama. Beberapa studi menginformasikan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk membunuh atau menonaktifkan virus menggunakan UV itu lebih lama dibanding menggunakan aerosol disinfektan.

Di samping itu sinar UV juga merusak kolagen, yang merupakan protein pada kulit manusia. Maka, lanjut Samsul, UV bisa menyebabkan kerutan (wrinkles) dan kanker kulit. Oleh karena itu bilik dengan cara aerosol lebih umum digunakan.

Berdasar pengamatan pada pemanfaatan bilik aerosol, ada beberapa kelemahan yang sangat mungkin terjadi. Kelemahan tersebut antara lain:

1. Belum ada kajian kajian ilmiah yang memberikan hasil prosentase virus yang dapat dinonaktifkan dari permukaan (orang khususnya) di dalam bilik (kalau kajian jumlah virus yang dapat dinonaktifkan pada berbagai permukaan dengan aerosol di dalam uji laboratorium tentu sudah banyak).

2. Aliran aerosol di dalam bilik tidak cukup kencang untuk dapat masuk ke permukaan-permukaan tersembunyi seperti lipatan baju, sela-sela anggota badan dsb.

3. Permukan-permukaan yang mudah teriritasi atau sensitif terhadap aerosol cairan disinfektan seperti mata, kulit wajah dsb menjadi kurang nyaman.

4. Penggunaan aerosol membutuhkan pelayanan saat beroperasi yaitu menjaga terdapatnya cairan disinfektan di dalam tandon.

5. Aerosol yang terakumulasi di dalam bilik, lama kelamaan memberikan kondisi basah yang kurang nyaman di bagian bawah bilik.

6. Pemakaian cairan disinfektan berlebih justru berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan

7. Ada kemungkinan terdapatnya droplet virus yang luput dari cakupan aerosol dan lepas dari permukaan yang pada akhirnya justru dapat menginfeksi orang yang masuk belakangan.

Samsul menilai, perbaikan terhadap bilik disinfektan cara aerosol menjadi sangat penting untuk dilakukan. Mengingat kepastian bahwa orang yang masuk bilik disinfektan harus sudah bebas dari virus Corona dan atau virus tersebut juga dipastikan terbunuh di dalam bilik. Sedangkan di sisi lain, cara yang digunakan harus aman terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Selanjutnya
Halaman
1 2