Round-Up

Verifikasi Keris Diponegoro Berdasar Manuskrip yang Diragukan Keasliannya

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 13 Mar 2020 11:08 WIB
Sardono W Kusumo, Koreografer/Budayawan
Sardono W Kusumo. (Foto: Muchus Budi R/detikcom)
Yogyakarta -

Tim verifikator keris milik Pangeran Diponegoro mengatakan penelitian didasarkan pada manuskrip yang ditulis oleh Sentot Prawirodirdjo yang kemudian diterjemahkan pelukis Raden Saleh. Budayawan meragukan keaslian manuskrip tersebut.

Sebelumnya, sejarawan Sri Margana mengatakan tim verifikator mendasarkan kesimpulannya pada tulisan karya Sentot Alibasyah Prawirodirdjo (Panglima Perang Diponegoro) yang ditemukan pada 2017. Tulisan itu dibuat pada Mei 1830, tak lama setelah Diponegoro ditangkap.

Dalam tulisan berbahasa dan beraksara Jawa itu, Sentot menuliskan, 'Saya menyaksikan sendiri Pangeran Diponegoro menghadiahkan Keris Naga Siluman kepada Letnan Kolonel Cleerens.' Jan-Baptist Cleerens adalah komandan lapangan yang menjalin 'gentlemen's agreement' dan dipercaya oleh Diponegoro, maka Diponegoro menghadiahkan keris itu kepada Cleerens sebagai tanda kepercayaan, meski akhirnya Diponegoro dikhianati Belanda dan ditangkap Jenderal De Kock di Magelang.


Di tulisan Sentot itulah ada penyebutan nama keris 'Naga Siluman'. Tulisan Sentot yang berbahasa dan aksara Jawa itu kemudian diterjemahkan ke Bahasa Belanda oleh pelukis kenamaan, Raden Sale. Raden Saleh melihat langsung keris itu dan mendeskripsikan ciri fisik keris itu, tepat di samping tulisan Sentot.

"Raden Saleh memberi catatan dalam bahasa Belanda, dituliskannya bahwa keris Naga Siluman itu punya luk (lekukan)berjumlah 11," kata anggota Tim Verifikasi Keris Pangeran Diponegoro, Sri Margana, kepada detikcom, Selasa (10/3).

Diwawancara terpisah, Budayawan Profesor Sardono W Kusumo meragukan keaslian manuskrip itu. Sardono, yang juga koreografer, pernah membuat riset mendalam perihal kehidupan Pangeran Diponegoro, terutama dari kajian sejarah dan sosio-politik selama Perang Jawa, tahun 1825-1830. Riset itu dilakukan guna pendalaman materi pertunjukan tari yang digarapnya berjudul 'Opera Diponegoro'.

"Apa benar manuskrip itu tulisan asli dari Panglima Sentot? Bukankah ketika penangkapan Diponegoro, Sentot telah lebih dulu ditangkap dan diasingkan ke Sumatera? Kok ada tulisan yang menyebutkan bahwa Sentot mengaku melihat sendiri penyerahan keris oleh Diponegoro ke pihak Belanda, padahal saat itu Sentot tidak ada di lokasi perundingan di Magelang, yang berakhir penangkapan itu (Pangeran Diponegoro)," kata Sardono kepada detikcom, Kamis (12/3).

Raja Belanda Serahkan Keris Pangeran Diponegoro ke Jokowi:

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2