Jadi Kurir Demi Sabu Gratisan, Pria Sleman Ini Diciduk Polisi

Pradito Rida Pertana - detikNews
Selasa, 25 Feb 2020 16:41 WIB
Tersangka kurir narkoba diamankan Polresta Yogyakarta, Selasa (25/2/2020).
Tersangka kurir sabu diamankan Polresta Yogyakarta, Selasa (25/2/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Polisi meringkus BSN (36), kurir sabu dan pil ekstasi di salah satu klub malam. Warga Kelurahan Cebongan, Kecamatan Mlati, Sleman itu menjadi kurir agar dapat mengonsumsi narkoba secara gratis.

Kasat Resnarkoba Polresta Yogyakarta Kompol Sukar mengatakan, penangkapan BSN berawal dari informasi masyarakat terkait adanya transaksi narkoba di salah satu klub malam di Sleman. Mendapat informasi tersebut, polisi langsung melakukan penyelidikan.

"BSN ini kami tangkap tanggal 17 Februari di Cebongan. Jadi sebelum mengedarkan itu (narkoba) ke klub malam dia sudah kami tangkap. Selain itu kami juga amankan barang bukti narkoba seperti sabu dan beberapa butir pil ekstasi," katanya saat jumpa pers di Mapolresta Yogyakarta, Selasa (25/2/2020).

Sukar menyebut, barang bukti tersebut terdiri dari tiga plastik klip berisi sabu dengan berat sekitar 2,09 gram, satu plastik klip berisi dua butir pil ekstasi warna hijau, dan satu bungkus plastik klip berisi tiga butir pil ekstasi warna abu-abu.

Kanit I Satreskoba Polresta Yogyakarta AKP Dwi Astuti menambahkan, BSN langsung digelandang ke Mapolresta Yogyakarta. Dari pemeriksaan, BSN mengaku hanya mengantarkan barang haram tersebut ke seorang konsumen yang berada di salah satu klub malam di Jalan Magelang.

"Jadi dia (BSN) ini kurir, dan disuruh mengantar barang itu sama RG, seorang (yang masuk) DPO (daftar pencarian orang) asal Jakarta. Dari pengakuan, B (BSN) ini sudah jadi kurir dua kali, yakni bulan Januari dan bulan Februari," katanya.

Astuti menjelaskan, BSN mematok harga Rp 1,3 juta untuk setiap paket sabu dan untuk satu butir ekstasi ia patok seharga Rp 325 ribu. Kendati demikian, ia mengaku tidak mengambil keuntungan dari penjualan narkoba tersebut.

"B ini mengaku tidak mengambil keuntungan, dia mau jadi kurir karena dia bisa pakai (narkoba) dengan gratis. Istilahnya itu betrik, jadi sebelum sampai tangan konsumen barangnya dikurangi dan dipakai sendiri," katanya.

"Dan untuk motifnya, dari pengakuan dia ya hanya ingin merasakan sabu saja. Jadi ingin memakai tapi tidak perlu keluar uang," sambung Astuti.

Atas perbuatannya, BSN disangkakan melanggar Pasal 112 Ayat (1) UU RI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Merujuk pasal tersebut, BSN terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara dan denda Rp 8 miliar.

(rih/sip)