Analisis Psikolog UGM soal Banyak Pengikut Keraton Agung Sejagat

Usman Hadi - detikNews
Selasa, 21 Jan 2020 23:21 WIB
Foto: Guru Besar Psikologi UGM Prof Koentjoro (Usman Hadi/detikcom)
Yogyakarta - Belakangan marak bermunculan keraton baru seperti Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire. Keraton-keraton 'baru' ini ternyata menarik minat masyarakat. Apa analisis psikolog Universitas Gajah Mada (UGM)?

"Kenapa mereka seperti itu? Ada dua hal yang memungkinkan, yang pertama itu adalah yang namanya post power syndrome," jelas Guru Besar Psikologi sekaligus Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof Koentjoro, kepada wartawan, Selasa (21/1/2020).

"Banyak di antara mereka orang-orang tua yang barangkali dulu punya jabatan tertentu yang tidak terlalu tinggi, tapi kemudian ketika pensiun di rumah sudah tidak ada siapa-siapa yang bisa diperintah, maka dia bergabung (di kerajaan baru)," lanjutnya.


Faktor kedua, kata Koentjoro, diduga karena kurangnya perhatian yang didapat orang tua dari anak dan keluarganya. Akhirnya mereka mengalihkan perhatiannya ke sesuatu yang baru, termasuk dengan bergabung dengan keraton baru.

"Jadi si bapak-bapak kita itu kurang perhatian dari anaknya, sehingga apa? Mereka mencari (perhatian) keluar," tuturnya.


Kemudian Koentjoro menyinggung soal ketertarikan masyarakat dengan simbol-simbol kepangkatan. Dia menyontohkan simbol yang melekat pada pegawai negeri sipil (PNS).

"Banyak orang ingin menjadi pegawai negeri, karena apa? Karena pegawai negeri adalah fenomena dari perwakilan orang Keraton. Karena itulah kemudian mereka berbondong-bondong ke situ seakan-akan dia adalah perwakilan dari keraton," tuturnya.


Koentjoro memprediksi fenomena munculnya keraton-keraton 'baru' dengan pengikutnya bakal terulang di kemudian hari. Dia menyebut langkah antisipasinya yakni dengan mendekatkan hubungan dengan orang tua.

"Fenomena ini akan terus terjadi. Kita bisa melihat sejak zaman dahulu ada (kemunculan keraton-kerajaan baru) dan ke depan akan tetap ada. Maka salah satu yang bisa kita lakukan adalah hormatilah orang tuamu," pungkas Koentjoro. (ams/sip)