Begini Kronologi Siswi SMA Sragen yang Diteror Gegara Tak Berjilbab

Andika Tarmy - detikNews
Senin, 20 Jan 2020 20:56 WIB
Orang tua siswi SMAN 1 Gemolong Sragen yang diteror gegara tak berjilbab. (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Sragen - Siswi SMA Negeri 1 Gemolong Sragen, Z, mendapatkan pesan via WhatsApp dari salah satu pengurus rohis di sekolahnya. Pesan yang isinya meminta Z untuk segera mengenakan jilbab ini, berubah menjadi teror karena dikirim hampir setiap hari, dan disertai kata-kata yang menjurus intoleransi dan menghina orang tua Z.

Z yang tertekan batinnya, melapor ke ayahnya, Agung Purnomo, yang kemudian mendatangi pihak sekolah untuk melayangkan protes. Kejadian ini kemudian viral hingga memantik reaksi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk angkat bicara dan meminta dinas terkait untuk segera menindaklanjutinya.

Berikut uraian kasus tersebut seperti dirangkum detikcom:


September 2019
Awal September 2019, salah seorang pengurus rohis mulai mengirim pesan WhatsApp kepada Z. Selain meminta Z untuk segera mengenakan jilbab, si pengirim juga rutin mengirimkan artikel-artikel terkait. Hampir setiap hari Z dikirimi pesan WhatsApp serupa.

Oktober 2019
Z masih terus mendapatkan pesan WhatsApp, namun frekuensinya berkurang.

November 2019
Akhir November, Z yang tidak nyaman karena terus mendapatkan pesan, akhirnya memblokir nomor si pengirim.

Desember 2019
Awal Desember 2019, siswa yang menyadari nomornya diblokir, ganti mengirim pesan ke teman dekat Z. Siswa tersebut berpesan agar menyampaikannya ke Z.

Akhir Desember 2019, si pengirim mulai mengirimkan pesan bernada intoleran, hingga ada beberapa pesan yang menyinggung orang tua Z. Merasa semakin tertekan, Z melapor ke ayahnya, Agung Purnomo.

6 Januari 2020
Orang tua Z mendatangi pihak sekolah untuk memprotes terkait teror yang terus diterima oleh anaknya. Pihak sekolah mendatangkan pengurus rohis pelaku teror dan mempertemukannya dengan orang tua Z. Pihak sekolah mengklaim masalah ini selesai secara damai.

Hal berbeda diungkapkan ayah Z, Agung Purnomo. Agung menyebut masalah ini belum tuntas. Dia ingin ada langkah nyata dari sekolah untuk mencegah kasus ini terulang lagi.

9 Januari 2020
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendapat laporan terkait teror WhatsApp (WA) kepada salah seorang siswi tak berjilbab di SMA Negeri 1 Gemolong Sragen. Ganjar meminta dinas terkait untuk melakukan klarifikasi.

"Banyak yg tanya kepd sy soal teror WA ke siswi tak berjilbab di SMA 1 Gemolong Sragen. Dinas P&K Prov bsk pg akan klarifikasi ke sekolah. Mari kita hormati & saling belajar dg baik, tidak memaksa apalagi meneror. Saya akan ajak bicara siswa, guru & ortu," tulis Ganjar melalui akun Facebook pribadinya, seperti dikutip detikcom, Kamis (9/1/2020).

13 Januari 2020
Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah VI Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah telah memanggil pihak sekolah terkait kasus teror terhadap siswi yang tidak menggunakan jilbab di SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen. Pertemuan ini membuahkan beberapa evaluasi yang akan dilakukan oleh pihak sekolah agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kemarin sudah kita undang, baik kepala sekolah, wakil, pembina rohis, guru BK dan guru agama. Kita tanya terkait bagaimana metode kegiatannya di situ. Tujuan kita adalah mencari formulasi yang mungkin kurang pas, agar bisa kita benahi," ujar Kepala KCD Wilayah VI, Eris Yunianto, dihubungi detikcom, Senin (13/1/2020).

Sementara kondisi siswi SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen berinisial Z yang diteror akibat tidak mengenakan jilbab masih trauma. Ia bahkan belum berani kembali masuk ke sekolah.

"Kondisi anak ketakutan tadi ketika saya baru datang. Tapi setelah saya terapi dua kali, ketika dia sudah saya motivasi alhamdulillah sudah mau diajak ngomong. Tadi ada pihak sekolah datang dari guru BP (BK, bimbingan dan konseling) menanyakan kenapa sudah empat hari nggak masuk sekolah," ujar Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati, Sugiarsi, yang ditunjuk orang tua Z untuk melakukan pendampingan.

16 Januari 2020
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati melakukan mediasi bersama orang tua siswi dan pihak sekolah.

Mediasi itu berlangsung tertutup di ruang Citrayasa kompleks Rumah Dinas Bupati Sragen, Kamis (16/1) pukul 08.30-10.00 WIB. Selain pihak sekolah dan orang tua siswi, perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sragen juga ikut dalam pertemuan ini.

"Baik dan terselesaikan dengan baik," kata Bupati Yuni kepada detikcom, Kamis (16/1).

17 Januari 2020
Z, akhirnya pindah sekolah. Pihak orang tua memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain agar anaknya bisa belajar dengan tenang. Sementara kondisi psikologis Z dilaporkan mulai pulih, meskipun berat badannya sempat turun hingga lima kilogram akibat stres.

"Saya pindahkan ke sekolah swasta di Solo. Biar tenang, biar dia mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan yang diinginkannya," ujar orang tua Z, Agung Purnomo, dihubungi detikcom, Minggu (19/1).

Agung melanjutkan, Z sudah mulai masuk di sekolah barunya sejak Jumat (17/1). Dirinya mengungkapkan, setelah mendapatkan sekolah baru, Z langsung bisa berinteraksi baik dengan teman-teman sekelasnya. Kondisi psikologis Z pun diakuinya berangsur membaik.


Sementara SMAN 1 Gemolong Sragen akhirnya melaksanakan ikrar Pancasila setelah kasus tersebut. Ikrar Pancasila ini merupakan tindak lanjut mediasi pihak sekolah dengan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Gemolong.

"Betul kita selaku Muspika menyaksikan jalannya ikrar tersebut. Ikrar digelar usai upacara 17-an, hari Jumat lalu," kata Danramil Gemolong Lettu Inf. Kukuh Prihatin, saat dihubungi detikcom, Senin (20/1/2020).




Tonton juga video Sekolah Digusur Proyek Kereta Cepat, Siswa Numpang Belajar di Aula Desa:

[Gambas:Video 20detik]



(rih/ams)