Round-Up

Jangan Ngakak! Ini 'Tata Cara Kerajaan' di Keraton Agung Sejagat

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 09:15 WIB
Lokasi Keraton Agung Sejagat. (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom)

Aturan lainnya adalah anggota kerajaan juga dilarang menggunakan HP, baik saat kirab maupun ketika berada di dalam gedung 'keraton'. "Saya saja waktu itu HP tidak boleh bawa. Baik saat kirab maupun di dalam gedung," kata Eko.


Motif pengumpulan uang dari warga mulai dirasakan ketika pihak 'kerajaan' menarik iuran. Dalihnya untuk pengadaan baju adat kerajaan, konsumsi, dan penggandaan buku panduan.

"Iya saya waktu itu juga diminta membayar uang total habis Rp 2,3 juta. Katanya untuk baju adat Jawa, konsumsi, dan buku paduan," jelasnya.


Tak cuma itu, setiap kali ada pertemuan, para anggota kerajaan juga dimintai dana sukarela. Saat disinggung terkait berapa besaran dana sukarela yang dia setorkan, Eko enggan untuk membeberkan. Dia hanya menduga uang itu digunakan untuk membangun keraton.

"Setiap pertemuan ada dana sukarela, saya sudah tiga kali setor uang, tapi untuk jumlahnya mohon maaf saya tidak bisa membeberkan. Kemungkinan besar uang-uang itu untuk membiayai proses pembangunan keraton itu," tuturnya.


Kini, di sekitar 'kerajaan' itu sudah dipasang garis polisi. Raja dan permaisuri KAS pun sudah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Totok Santoso, 42, dan Fanni Aminadia, 41, keduanya dijerat dengan pasal 14 UU RI No 1/1946 tentang menyiarkan berita bohong dan menerbitkan keonaran. Serta Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Halaman

(mbr/mbr)