2 Pria Ditangkap Polisi Saat Gali Sabu di Depan Kejari dan Sekolah

Andika Tarmy - detikNews
Senin, 13 Jan 2020 19:34 WIB
Foto: Tersangka penggali sabu di depan Kejari dan Sekolah di Sragen (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Sragen - Dua pengguna narkotika jenis sabu di Sragen, Jawa Tengah, ditangkap polisi. Keduanya nekat bertransaksi narkotika yang dikubur di depan kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sragen dan sekolah.

Dua pengguna sabu yang ditangkap petugas adalah Whiwhi Mares (30), warga Kelurahan Sragen Tengah, Kecamatan Sragen Kota, dan Hery Wardoyo (38), warga Desa Gebang, Kecamatan Masaran. Keduanya mengaku mendapatkan sabu itu dari seorang napi di Lapas Kedungpane, Semarang.

"WM ini adalah residivis kasus narkoba, yang baru keluar dari penjara Oktober 2019 lalu, usai menjalani vonis 2,5 tahun penjara," ujar Kasat Narkoba Polres Sragen AKP Joko Satriyo Utomo di Mapolres Sragen, Senin (13/1/2020).


Joko menyebut Whiwhi diamankan polisi usai tertangkap tangan membeli sabu Kamis (2/1) lalu. Dari tangan Whiwhi, polisi mengamankan barang bukti sabu seberat 0,92 gram.

"Yang bikin menarik, sabu ini oleh pengedarnya dikirim dengan ditanam di depan Kantor Kejari Sragen. Posisi sabu diletakkan persis bawah papan nama kantor kejaksaan. Jadi rupanya kantor kejaksaan tidak membuat mereka takut justru menimbulkan semangat mereka untuk uji nyali," terang Joko.


Hery ditangkap polisi saat ketahuan menggali sabu di depan pintu gerbang SMK Negeri 2 Sragen, Minggu (5/1). Hery sempat mencoba kabur saat akan diamankan, tapi akhirnya ditangkap dengan barang bukti sabu seberat 0,52 gram terbungkus lakban hitam di tangannya.

"Keduanya memesan sabu dari seseorang di Lapas Kedungpane. Orangnya masih di sana (lapas). Sudah kami selidiki bahwa napi ini dulunya memang bandar besar yang ditangkap BNN, kemudian divonis 20 tahun penjara. Tapi vonis itu tidak membuat si napi jera namun justru mengendalikan operasinya dari dalam lapas," ujar Joko.

Kedua pelaku dijerat pasal 112 KUHP tentang Narkotika. Keduanya terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara serta denda sebesar Rp 800 juta. (ams/rih)