Deni Terpidana Mati Kasus Mutilasi PNS Bandung Ajukan Banding

Arbi Anugrah - detikNews
Senin, 06 Jan 2020 18:07 WIB
Deni Prianto, pelaku pembunuhan dan mutilasi Komsatun Wachidah, PNS Kemenag Bandung divonis mati PN Banyumas, Kamis (2/1/2020). (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas - Deni Prianto, terpidana mati kasus pembunuhan dan mutilasi Komsatun Wachidah, PNS Kemenag Bandung mengajukan banding. Surat permohonan banding diajukan ibu Deni, Tini (66) melalui Pengadilan Negeri (PN) Banyumas.

"Tadi bersurat sendiri, surat diantarkan ibunya terdakwa Deni, pada intinya mengajukan banding," kata juru bicara PN Banyumas Tri Wahyudi kepada wartawan, Senin (6/1/2020).

Dia menjelaskan, pihaknya tidak mengetahui secara pasti isi surat permohonan banding tersebut, termasuk siapa yang menandatanganinya.

"Kalau sampai saat ini yang datang ibunya, ibunya membawa surat, tapi tidak tahu persis ditandatangani oleh Deni atau bukan, pada intinya mengajukan banding," jelas Tri.


Diketahui, Deni Prianto dijatuhi hukuman mati oleh PN Banyumas. Deni divonis berdasarkan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Kemudian Pasal 181 KUHP dan Pasal 362 KUHP.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Deni Prianto alias Goparin, oleh karena itu dengan pidana mati," kata ketua majelis hakim, Abdullah Mahrus saat membacakan surat putusan, Kamis (2/1).

Surat putusan yang dibacakan itu setebal 159 halaman dengan majelis hakim yang beranggotakan Tri Wahyudi dan Randi Jastian Afandi.

"Perbuatan terdakwa terbilang keji dan membuat perasaan sedih pada keluarga korban dan terdakwa merupakan residivis dalam masa bebas bersyarat. Hal yang meringankan tidak ada," terang Abdullah saat membacakan hal yang memberatkan terdakwa.


Setelah pembacaan surat putusan, hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk mengajukan banding atau pikir-pikir.

"Keputusan sudah dibacakan, terdakwa mempunyai hak yang sama untuk mengajukan banding atau pikir pikir selama tiga hari setelah keputusan ini dibacakan ataupun menerima keputusan ini," jelas Abdullah. (rih/sip)