Mobdin Rubicon Bupati Karanganyar, Sosiolog: Cari Sensasi dan Tak Peduli

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Minggu, 08 Des 2019 16:27 WIB
Bupati Karanganyar, Juliyatmono (tengah). -- Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo - Pembelian Jeep Wrangler Rubicon untuk mobil dinas Bupati Karanganyar membuat pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sosiolog UNS Solo, Drajat Tri Kartono, menilai hal tersebut tak seharusnya dilakukan dan akan semakin memperlebar jurang kesenjangan.

"Dari segi kebutuhan masyarakat, nanti menimbulkan kesenjangan yang jauh. Seolah-olah pemerintah tidak peduli penderitaan rakyat yang masih banyak yang susah. Kan bisa beli yang tidak sesensasi itu," kata Drajat.


Dia juga menyarankan agar jajaran pemerintah lebih menjalankan fungsi dan tugasnya ketimbang melakukan pencitraan. Pemerintah diminta lebih sederhana untuk menjaga keselarasan dengan rakyat.

"Jangan tergiur model pencitraan media sosial, yang dicari yang eksotik, menarik, keren, sensasional. Sebaiknya pemerintah itu sederhana saja, santun, kerja keras. Itu yang dibutuhkan saat ini," pungkasnya.


Lebih lanjut Drajat juga menilai pembelian mobil dinas seharga Rp 1,989 miliar itu bukan sebuah hedonisme, melainkan sesuatu yang sensasional.

"Orang-orang hedonisme ini memuja-muha berbagai hal yang menunjukkan kesenangan dan kelebihannya. Tapi kalau ini (Rubicon untuk bupati) saya sebut sensasional," paparnya.

Menurutnya, orang-orang saat ini memiliki pola hidup yang ingin mendapatkan perhatian. Dengan sensasi tersebut diharapkan bisa memperoleh penghormatan. "Misal mobil mewah, itu menaikkan modal simboliknya, yaitu reputasi. Kemudian mendapatkan penghargaan dan penghormatan orang yang sifatnya material," ujar dia.


Contoh lain ialah lampu-lampu kota yang gemerlap. Padahal bisa saja pemerintah memasang lampu yang cukup untuk menerangi jalan.

"Gemerlap lampu kota sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, yang penting fungsinya. Tapi itu tetap dilakukan untuk senasi, agar diperhatikan," tegasnya. (bai/mbr)