detikNews
2019/10/22 19:29:29 WIB

Tarik Prabowo ke Kabinet Dinilai Strategi Jokowi Tekan Kelompok Radikal

Usman Hadi - detikNews
Halaman 1 dari 2
Tarik Prabowo ke Kabinet Dinilai Strategi Jokowi Tekan Kelompok Radikal Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof Ratno Lukito, Selasa (22/10/2019). Foto: Usman Hadi/detikcom
Sleman - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Prof Ratno Lukito, menyebut bergabungnya Prabowo Subianto dengan Partai Gerindra ke koalisi pemerintah merupakan strategi Jokowi untuk menetralisir kelompok radikal. Apa maksudnya?

Awalnya Ratno menuturkan mengenai polarisasi antara kelompok nasionalis dengan muslim radikal di Pilkada DKI tahun 2017 lalu. Tren polarisasi tersebut berlanjut di Pilpres 2019, yang mana isu agama dipakai salah satu parpol untuk mendulang suara.

Adapun Jokowi selama Pilpres 2019 lalu oleh kelompok muslim radikal kerap diposisikan sebagai musuh Islam. Sementara pesaingnya, Prabowo dianggap sebagai pembela agama. Bisa dikatakan Prabowo menjadi pintu masuk kelompok muslim radikal.

"Bagaimanapun juga (Pilpres 2019) kemarin itu Prabowo sudah dapat dikatakan menjadi pintu masuk bagi kelompok agama politik," kata Ratno saat ditemui detikcom di kantor Prodi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Sleman, DIY, Selasa (22/10/2019).


Menurut Ratno, Jokowi menangkap gelagat menguatnya kekuatan dari kelompok muslim radikal usai Pilpres 2019. Untuk memecah kekuatan itu, maka Jokowi menarik Prabowo dan Partai Gerindra ke koalisi pemerintah. "Jadi ini strateginya Jokowi," tuturnya.

"Jadi kalau dilihat dari sini maka sebetulnya agenda Jokowi yang kedua ini ingin menyelamatkan, supaya (kekuatan kelompok muslim radikal) itu bisa dinetralkan dengan jalan Gerindra masuk. Karena mungkin jalan terbaiknya begitu," sambungnya.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com