detikNews
Minggu 08 September 2019, 15:39 WIB

Warga di Pekalongan Ini Harus Keluar Masuk Hutan Cari Air Bersih

Robby Bernardi - detikNews
Warga di Pekalongan Ini Harus Keluar Masuk Hutan Cari Air Bersih Warga di Pekalongan harus keluar masuk hutan cari air bersih, Minggu (8/9/2019). -- Foto: Robby Bernardi/detikcom
Kabupaten Pekalongan - Ratusan warga Dusun Siberuk, Desa Lambanggelun, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan terpaksa berjalan kaki keluar masuk hutan pinus hanya untuk mendapatkan air bersih. Mereka berjalan sekitar 2 kilometer menuju mata air yang debitnya masih mencukupi untuk kebutuhan warga dusun yang terdiri dari 65 kepala keluarga atau 307 jiwa.

"Mulai September karena tidak ada hujan mata air terdekat mulai kering. Saat ini warga bergantung di mata air di hutan pinus Sibenda," kata Kepala Desa Lambanggelun, Sutopo, saat ditemui detikcom di lokasi mata air Sibenda, Minggu (8/9/2019).


Menurut Sutpo, biasanya mata air terdekat dengan pemukiman Siberuk bisa untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga setempat. Namun di musim kemarau kali ini debit air di mata air itu mulai berkurang.

"Ya warga akhirnya mendapatkan sumber mata air di Sibenda ini walaupun harus berjalan ke sini sekitar 2,5 kilometer," jelasnya.

Warga di Pekalongan Ini Harus Keluar Masuk Hutan Cari Air BersihFoto: Robby Bernardi/detikcom
Dia mengakui pihak BPBD pernah memberikan bantuan ke dusun setempat, namun hanya sekali dan tidak mencukupi untuk kebutuhan warga dalam sehari.

"Ya beberapa hari lalu bantuan dari BPBD satu tangki. Tapi kan tidak semua warga dapat dan dalam sehari sudah habis," katanya.

Untuk menuju ke sumber mata air Sibenda sendiri, warga harus keluar dari dusun setempat dan masuk wilayah hutan pinus dengan kondisi jalan yang naik turun cukup terjal.

Warga biasanya tidak saja mengambil air bersih dengan menggunakan jeriken saja, namun juga sekalian mandi dan cuci di lokasi mata air.

"Saya ke sini tiga kali sehari. Untuk mengambil air bersih keperluan masak dan lain-lain. Kalau mandi ya di sini. Eman-eman Pak kalau gak mandi," kata salah seorang warga, Khusnul Khotimah (35).

Biasanya warga akan beramai-ramai mengambil air bersih ke mata air Sibenda. Kebanyakan adalah kaum wanita. Warga berharap pihak pemerintah bisa menyalurkan air bersih dari mata air Sibenda langsung ke pedusunan setempat.

"Ya kita jalan kaki dua kilo. Naik turun seperti ini Pak, mau bagaimana lagi," jelasnya.

Warga di Pekalongan Ini Harus Keluar Masuk Hutan Cari Air BersihFoto: Robby Bernardi/detikcom
Sementara itu data dari BPBD Pekalongan, memasuki bulan September ini krisis air bersih di Kabupaten Pekalongan meluas. Dari 19 kecamatan terdapat 9 kecamatan yang mengalami krisis air bersih, yakni Kecamatan Paninggaran, Sragi, Kesesi, Wonokerto, Kajen, Kedungwuni, Wonopringgo, Doro dan Kecamatan Karanganyar.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Budi Raharjo, puncak musim kemarau di wilayahnya berdasarkan perkiraan BMKG terjadi pada bulan September ini.

"Puncak kemarau prediksi BMKG di Kabupaten Pekalongan prediksinya di bulan September puncaknya," ungkapnya.


Menurut Budi, jumlah desa yang mengajukan bantuan droping air bersih terus bertambah. Pihaknya pun telah melakukan droping ke desa-desa di kecamatan terdampak.

"Kegiatan droping air bersih hingga hari ini sudah 51 tangki dengan kapasitas satu tangki 5 ribu liter. Jadi, total air bersih yang sudah di droping ke sembilan desa berjumlah 240 ribu liter," kata Budi.


Duh.. Calon Ibu Kota Baru Punya Masalah Air Bersih:

[Gambas:Video 20detik]




(skm/skm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com