detikNews
Rabu 04 September 2019, 18:55 WIB

Syukuran Panen Raya, Warga Bantul Gelar Tradisi Wiwitan

Pradito Rida Pertana - detikNews
Syukuran Panen Raya, Warga Bantul Gelar Tradisi Wiwitan Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Menyambut panen padi, warga Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul menggelar upacara wiwitan. Upacara tersebut sebagai wujud syukur warga kepada Tuhan YME atas limpahan hasil panen padi tahun ini.

Pantauan detikcom, puluhan orang dengan mengenakan pakaian adat Jawa memadati Lumbung Kampung Mataraman, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul. Selanjutnya, beberapa orang tampak memulai prosesi tari pengarak topeng sebagai simbol pengusir hama.

Dengan mengenakan topeng buta/raksasa, seorang pria menari sembari berjalan menuju persawahan. Tampak pula beberapa orang dengan mengenakan pakaian adat Jawa memainkan alat musik gamelan sembari mengiringi pria bertopeng menuju persawahan tersebut.
Wiwitan di BantukWiwitan di Bantuk Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Sesampainya di persawahan, mereka melangsungkan prosesi adat yang dilanjutkan dengan upacara wiwitan. Dalam upacara tersebut, warga membawa aneka makanan ke persawahan dan selanjutnya memanjatkan doa serta diakhiri dengan menuai padi sebagai simbol panen.

Ketua Desa Budaya Gilangharjo, Supriyanto menjelaskan upacara wiwitan di Lumbung Kampung Mataraman sudah kedua kali dalam pelaksanaannya. Menurutnya, upacara ini sebagai wujud syukur warga akan hasil panen yang melimpah.

"Upacara wiwitan ini sebagai simbol rasa syukur masyarakat Desa Gilangharjo atas panen," katanya saat ditemui detikcom di Lumbung Kampung Mataraman, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Rabu (4/9/2019) sore.

Selain sebagai bentuk rasa syukur akan hasil panen, upacara wiwitan merupakan simbolisasi dalam mewujudkan visi misi mataram. Di mana yang pertama adalah, sangkan paraning dumadi, manunggaling kawulo gusti dan memayu hayuning bawana.
panen raya padipanen raya padi Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Upacara wiwitan ini juga untuk menumbuhkan spirit, seperti merti wiji, yaitu menggunakan benih lokal seperti mentik wangi. Lalu merti bumi dengan menjaga kelestarian alam, merti kali (sungai) dalam rangka melestarikan sumber mata air dan merti laku lampah lakon wahyu untuk membangun karakter dan menanamkan budi pekerti bagi petani," ucap Supriyanto.

Mengenai tarian pengarak topeng, Supriyanto menjelaskan tarian itu sudah berlangsung secara turun-temurun sebelum upacara wiwitan dilaksanakan. Tarian tersebut juga memiliki filosofi khusus.

"Filosofi tari topeng pengusir hama ini sebagai kajian dalam bentuk tontonan dan tatanan bagi masyarakat. Di mana tarian itu sebagai simbolisasi agar bersinergi dengan alam supaya tanaman padi dihindarkan dari hama," katanya.

Supriyanto menambahkan upacara tersebut terus dipertahankan masyarakat Desa Gilangharjo untuk melestarikan dan mengenalkan kearifan lokal, khususnya bagi generasi milenial.

"Karena itu kedepannya (upacara wiwitan) akan terus dilaksanakan," katanya.


(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com