detikNews
Kamis 11 Juli 2019, 07:49 WIB

Round-Up

Sungai di Semarang Hitam Berlendir, Tanggung Jawab Siapa?

Aji Kusuma Admaja - detikNews
Sungai di Semarang Hitam Berlendir, Tanggung Jawab Siapa? Sungai tercemar limbah di Kabupaten Semarang. Foto: Aji Kusuma
Semarang - Warga Desa Klepu, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang mengeluhkan air sungai di wilayahnya hitam dan berlendir. Padahal aliran Sungai Sikendil dan Selilin di desa tersebut dibutuhkan warga untuk kebutuhan mandi dan irigasi.

"Kami sudah tidak bisa lagi memanfaatkan air sungai untuk mandi dan irigasi persawahan bagi petani. Jelas ini mengganggu, terlebih air menjadi keruh, berlendir dan baunya menyengat saat pagi dan malam hari," jelas Joko Rintis Sudibyo Warga RT 8 RW 1 Desa Klepu, saat menemani detikcom mengamati lokasi Sungai Sikendil, Senin (8/7).

Pantauan detikcom di lapangan, selain hitam dan berlendir, air di sungai tersebut juga berbuih. Bahkan pasir sungai juga terlihat hitam pekat. Menurut Rintis, kondisi ini akibat pembuangan limbah pabrik.

"Limbah itu berasal dari perusahaan produsen saos dan perusahaan pengolahan telur cair. Kalau yang saos itu malah sudah puluhan tahun. Tapi ya itu kami sudah sering duduk bersama dan bermusyawarah, tetapi belum ada hasil atau kepastian yang berpihak pada kelestarian sungai kami," terang Rintis.


Diwawancara terpisah Kepala Desa Klepu, Djoko Purnomo, mengakui bahwa pihaknya sudah berdialog dengan dua perusahaan yang telah mencemari Sungai Selilin dan Sikendil. Bahkan hal itu sudah dilakukan sejak tahun lalu, tetapi hingga saat ini, pihaknya belum melihat tindakan nyata yang dilakukan perusahaan untuk menyelamatkan dua sungai di desanya dari bahaya pencemaran.

"Lokasi perusahaan memang berada di Desa Ngempon, tetapi dampak dari limbah itu sampai ke desa kami. Sebenarnya kami sudah bermusyawarah, sudah difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup, sudah ada kesepakatan salah satunya adalah perusahaan berkenan membuat saluran pengolah limbah yang baik. Namun hal itu belum terealisasi, ya kami berharap perusahaan segera menindaklanjuti hasil kesepakatan yang sudah ditanda tangani bersama itu," terang Djoko.

Djoko kemudian menunjukkan Berita Acara Hasil Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup dengan nomor surat 660.1/1825/2019, disebutkan bahwa dua perusahaan yang dimaksud yakni PT Mangkok Mas dan PT Java Eggs Specialities (JESS).

Dari data itu disepakati bahwa kedua perusahaan itu berkewajiban untuk memantau proses pengolahan limbah dan memberikan akses kepada warga untuk melaporkan kejadian pencemaran air limbah.

Diwawancara terpisah, salah satu pabrik yakni PT Java Egg Specialities (PT Jess) menyatakan prosedur pengolahan limbah sudah mematuhi aturan dari pemerintah. Pihaknya menjamin memiliki data valid hasil dari uji laboratorium terhadap limbah pabrik tersebut.


"Satu bulan sekali limbah dari perusahaan kami selalu diuji oleh Laboratorium Sucovindo. Hasilnya juga sesuai dengan baku mutu dan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah," ungkap Quality Assurance PT Jess, Adhelinika Priharum Malinda kepada detikcom di kantornya, Jalan Dharmawangsa 76 Kelurahan Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (9/11).

"Jadi kalau ada limbah berlendir dan hitam pekat itu bukan dari perusahaan kami," imbuhnya.

Cek lapangan sebenarnya sudah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang terhadap dua perusahaan yang diduga mencemari sungai pada 17 Juni 2019.

"Ditemukan adanya beberapa limbah amonia, sulfat, dan mangan yang melebihi kadar batas," ungkap Yudinita saat ditemui awak media di Kantor DLH Kabupaten Semarang, Rabu (10/7).

Menurutnya, sebelum ada laporan warga pada Juni lalu, DLH sudah berupaya mempertemukan antara warga dan pihak perusahaan. Dari pertemuan itu disepakati beberapa poin penting seperti adanya perbaikan IPAL, pembersihan sungai dan menyebar bibit ikan.


Bahkan DLH Kabupaten Semarang sudah mencabut rekomendasi IPAL perusahaan tersebut. Namun hingga saat ini rekomendasi tersebut belum ditindaklanjuti.

"Bahkan rekomendasi kami pada 15 Mei 2019 kepada DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Kabupaten Semarang supaya mencabut IPAL PT Mangkok Mas, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari rekomendasi kami," terang Yudinita.

"Semestinya DPMPTSP segera menidaklanjuti mencabut izin," lanjutnya.

Simak Video "Semarang Night Carnival, Semarang "
[Gambas:Video 20detik]

(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com