Warga Pemalang Pilih Merantau Saat Musim Kemarau Tiba

Warga Pemalang Pilih Merantau Saat Musim Kemarau Tiba

Robby Bernardi - detikNews
Rabu, 03 Jul 2019 19:22 WIB
Foto: Robby Bernardi/detikcom
Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pemalang - Saat musim kemarau, lahan pertanian di sebagian wilayah Kabupaten Pemalang tidak bisa digarap lagi. Sebagian besar adalah lahan tadah hujan. Namun bila masih ada lahan yang bisa digarap, mereka akan menggarapnya meski kesulitan air untuk pengairan. Itupun jumlahnya sedikit.

Lahan pertanian mulai diinggalkan warga. Sebagian ada yang memilih merantau ke luar daerah untuk mencari pekerjaan lain. Mereka merantau ke kota-kota besar baik di Jawa Tengah maupun kota lain. Mereka akan kembali saat musim hujan tiba untuk bertani lagi.

Seperti yang terjadi di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari. Desa yang mempunyai sekitar 6.000 KK ini, mayoritas berprofesi sebagai petani sayur. Luas lahan pertanian desa setempat sekitar 17 hektare. Sebagian besar lahan pertanian mengandalkan air hujan.

"Kalau kemarau seperti ini, yang sudah panen ya, tanah ditinggalkan tidak digarap lagi," jelas Kepala Dusun Jawar, Ali Iksan,.
Warga Pemalang Pilih Merantau Saat Musim Kemarau TibaFoto: Robby Bernardi/detikcom

Kalaupun masih ada tanamanya, menurut Ali Iksan, petani hanya menunggu waktu panen saja.

"Disini tidak ada air. Tanaman hanya mengandalkan air dari embun pagi. Jadi kalau kemarau kita tidak tanam," tambahnya.

Para petani biasanya hanya menunggu panen dari musim tanam saat penghujan lalu. Tanaman yang biasa ditanam di lereng Gunung Slamet itu seperti cabai, kentang, kol, bawang solong dan waluh jipang.

"Kalau sudah panen, ya kita biarkan saja. Malah para pemudanya kesempatan untuk merantau," jelasnya.

Dari jumlah penduduk yang ada, sekitar 10 persen para pemudanya akan merantau. Hal ini, dilakukan karena lahan pertanian sudah tidak dapat diapa-apakan lagi.

"Biasanya merantau untuk kerja selama musim kemarau. Ya sekitar 10 persen pemudanya," tambahnya.

Namun tidak semuanya merantau, sebagian juga mengelola obyek wisata Bukit Melodi Cinta, yang menggunakan lahan milik Perhutani.

"Ini ada obyek wisata yang dikelola karangtaruna, jadi tidak semua merantau," jelasnya.

Salah satu pemuda yakni Aris Munandar mengatakan dirinya lebih memilih bertahan di desa untuk membantu pengelolaan obyek wisata.

"Kalau saya di desa saja, membantu di obyek wisatanya, dan juga ada basecamp pendakian dari sini," katanya.

Aris memgakui pengelolaan di obyek wisata saat ini juga terbentur dengan penyediaan air.

"Ada toilet tapi gak ada airnya. Ya bagaimana lagi, kondisinya seperti ini," katanya.



Simak Juga 'Kemarau, Bendung Katulampa Dilanda Kekeringan!':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Kondisi Situ Ciburuy Mengering, Mirip Lapangan Bola"
[Gambas:Video 20detik]
(bgk/bgs)