Ganjar dan 35 Kepala Daerah Se-Jateng Tolak Pernikahan Anak

Akrom Hazami - detikNews
Sabtu, 29 Jun 2019 13:55 WIB
Foto: Akrom Hazami/detikcom
Grobogan - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sepakat menolak pernikahan di usia anak yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Hal ini agar tidak lagi terjadi di tahun-tahun selanjutnya.

"Larangan pernikahan dini, ini perlu disosialisasikan. Jangan ada pernikahan anak," kata Ganjar kepada wartawan seusai acara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXVI dan Hari Anak Nasional (HAN) 2019 di Alun-alun Purwodadi, Grobogan, Sabtu (29/6/2019).

Dia meminta agar hal yang mengancam anak, termasuk pekerja anak, tidak ada lagi di Jawa Tengah. Karenanya orang tua hingga negara harus serius mengurusi anak.

"Anak harus disiapkan dengan baik. Maka negara harus serius mengurusi ini. Di samping itu kelurga punya peran penting. Kalau ada yang bilang, iki anakku dewe, opo yo kowe ngurusi. Maka paradigma ini harus diubah, agar anak mendapatkan ruang lebih banyak pada usianya dan bisa tumbuh dengan sangat baik," kata dia.

Dia meminta semua kepala daerah se-Jawa Tengah agar tidak hanya sepakat saja soal menolak pernikahan anak, tapi juga ikut mensosialisasikannya terus-menerus.

"Seluruh kabupaten dan kota sepakat tidak hanya dalam bentuk tanda tangan tapi juga sosialiasi. Biar jadi sikap yang sama," tegasnya mengimbau kepala daerah se-Jateng.

Dalam kesempatan itu, Ganjar mengajak anak-anak menyanyi, serta menanyakan siapa yang ditanyakan orang tua perihal sekolah. Ada tiga anak yang maju ke depan panggung. Di antaranya Nikolas Saputra dari salah satu SD di Purwodadi.
Kepada gubernur, Niko, panggilnnya mengaku ingin menjadi polisi.

"Saya ingin jadi polisi. Saya mau jadi jenderal," celetuk Niko saat ditanyai Ganjar soal cita-citanya.

Ganjar mewanti-wanti kepada orang tua agar mengawasi anak-anaknya. Terutama dengan mewabahnya gawai (gadget) di kalangan anak.

"Harganas, harus kontekstual, anak-anak makin diracuni gadget (gawai) ya. Orang tua musti memerhatikan, karena gadget jadi sumber petaka yang banyak sekali," kata Ganjar.

"Jika kita bisa mengarahkan maka akan jadi sumber informasi. Maka dia meminta keluaga di tengah era digital ini tetap silaturahmi, mari berkomunikasi, mengobrol, berdialog," ujarnya.

Dengan mengurangi kegandrungan anak akan gawai, kata Ganjar, hendaknya orang tua sadar bahwa kualitas hubungan orang tua dan anak adalah segalanya.

"Bagaimana kualitas mereka dengan orang tua, karenanya di harganas, mari kita bareng-bareng sadar untuk membantu anak kita, menemani anak kita, meraih kebahagiaan dengan bahagia dan riang," tambah Ganjar.

Ganjar saat memanggil perwakilan anak ke depan panggung juga menanyakan kepada anak, apakah mempunyai ponsel dan apakah gawainya dibawa ke sekolah.
"Apa kamu punya HP (ponsel)? Dibawa ke sekolah enggak HP-nya?," tanya Ganjar pada seorang anak.

"Saya punya HP tapi tidak saya bawa ke sekolah. Saya tinggal di rumah saat belajar," jawab si anak itu.

Acara itu juga ditandai dengan deklarasi dan pembubuhan tanda tangan sebagai bentuk kesepakatan menolak pernikahan anak. Kesepakatan tersebut dilakukan di peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXVI dan Hari Anak Nasional (HAN) 2019 di Alun-alun Purwodadi, Grobogan.


Simak Video "Petualangan yang Menantang Para Penggemar Trail, Grobogan"
[Gambas:Video 20detik]
(bgk/bgs)