detikNews
Kamis 20 Juni 2019, 16:25 WIB

Ratusan Orang Keturunan Jawa dari 8 Negara Kumpul di Solo, Ada Apa?

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Ratusan Orang Keturunan Jawa dari 8 Negara Kumpul di Solo, Ada Apa? 269 orang keturunan Jawa dari 8 negara berkumpul di Solo. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo - Sebanyak 269 orang keturunan Jawa dari delapan negara berkumpul di Solo. Mereka ingin melepas kerinduan dengan budaya di tempat kelahiran para leluhur mereka, yakni tanah Jawa.

Selama di Solo, mereka dijamu oleh Pemerintah Kota Surakarta dan Institut Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Acara dibuka di UNS, Kamis (20/6/2019).

Acara tersebut menjadi unik karena seluruh peserta berkomunikasi dengan Bahasa Jawa ngoko. Sebagian peserta bahkan fasih menggunakan Bahasa Jawa krama alus.

Dalam acara pembukaan, dipentaskan tari Gambyong oleh perwakilan Malaysia untuk menghibur hadirin. Selain itu, mereka juga menghibur diri dengan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jawa dengan berbagai jenis musik.

Para peserta yang tergabung dalam Javanese Diaspora Network (JDN) itu juga akan diajak mengikuti tur di Kota Solo. Antara lain mereka akan diajak nonton wayang sarasehan 'Ngelmu Jawa' hingga nonton video berjudul 'Sugih'.

Salah satu peserta asal Suriname, Tumijan mengatakan bekerja sebagai penyiar Radio Brabantse Kumpul yang dapat diakses melalui internet. Radio tersebut memiliki segmentasi mayoritas diaspora Jawa dari Suriname, Belanda dan negara lain.

"Lagunya kebanyakan Jawa, ada juga Belanda. Seperti campursari, Koes Plus, yang favorit Didi Kempot," kata Tumijan dalam Bahasa Jawa.


Di Indonesia, dia mengaku ingin berkunjung ke daerah asal leluhurnya. Kakeknya berasal dari Banyumas, neneknya berasal dari Magelang.

"Kakek nenek saya dulu dibawa orang ke Belanda. Saya lahir di Suriname, lalu saya sekarang menetap di Belanda. Setelah ini saya ingin ke Purwokerto, menengok kota kelahiran leluhur," katanya.

Peserta lainnya, Nawawi asal Malaysia, mengatakan ayahnya yang berasal dari Purworejo dahulu mendirikan madrasah di Malaysia. Hingga kemudian dia menetap di Ayer Hitam, Johor.

"Di kampung saya 99 persen orang Jawa. Mereka juga mendengarkan lagu-lagu Jawa, ada yang bisa ndalang wayang kulit, tradisi ambengan (kenduri) juga masih," katanya.


Dia mengaku masih berkomunikasi dengan keluarganya di Purworejo. Bahkan dia telah dibuatkan rumah oleh keluarganya di sana.

"Paman saya membuatkan rumah di Purworejo, tapi nggak ada yang pakai. Saya kan tinggalnya di Malaysia," ujar dia.

Adapun pertemuan diaspora Jawa sedunia itu diikuti oleh delapan negara, yakni Suriname, Malaysia, Belanda, Kaledonia Baru, Singapura, Amerika dan Cina. Mereka akan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan hingga 23 Juni 2019 nanti.
(bai/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed