detikNews
Rabu 12 Juni 2019, 11:55 WIB

Kupatan Bulusan, Tradisi Beri Makan Bulus yang Disabda Sunan Muria

Akrom Hazami - detikNews
Kupatan Bulusan, Tradisi Beri Makan Bulus yang Disabda Sunan Muria Tradisi Kupatan Bulusan di Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Satu di antara tradisi unik saat hari raya kupatan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yakni Tradisi Kupatan Gebyar Festival Budaya Bulusan. Lokasinya, di Dusun Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo.

"Bulus adalah murid dari Mbah Dudo yang disabda Kanjeng Sunan Muria," kata Juru kunci Makam Mbah Dudo, Sirajudin di lokasi ritual, Rabu (12/6/2019).

Mbah Dudo merupakan leluhur desa tersebut. Dipercaya bulus-bulus di desa ini semula berwujud manusia tapi oleh Sunan Muria disabda menjadi bulus. Tak heran jika bulus menjadi ikon dari acara ini.

Sebelumnya, kata Sirajudin, Sunan Muria melintasi desa dan melihat samar-samar gerakan murid Mbah Dudo yang seperti bulus. Sunan Muria berucap jika gerakan itu mirip gerakan bulus.

"Gerakan murid Mbah Dudo seperti bulus. Seketika murid itu berubah jadi bulus," terangnya.

Hingga kini, kata dia, warga setempat sangat memperhatikan bulus yang ada di sekitar Sungai Sungai Perak Sendang Bulusan. Warga selalu memberi makan bulus, termasuk saat hari Raya Kupatan sekarang.

Tradisi Kupatan Bulusan di Kudus. Tradisi Kupatan Bulusan di Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom

Dalam tradisi ini, Sirajudin, dan tokoh desa lain Nyai Sudasih, Bupati Kudus M Tamzil memberi makan bulus dengan lepet. Ada tiga ekor bulus di depan panggung utama acara yang diberi makan.

Bulus-bulus itu makan dengan lahap. Namun lepet yang dipegang bupati tidak dimakan lahap si bulus.


"Bulus belum mau makan lepet. Saya ya pingin makan lepet," kata Tamzil setengah bercanda saat memberi sambutan usai ritual.

Tradisi Kupatan Bulusan di Kudus. Tradisi Kupatan Bulusan di Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom

Tamzil menyatakan apresiasinya atas Festival Bulusan karena melibatkan banyak kalangan.

"Di undang-undang ada desa adat. Kegiatan ini diharapkan bisa memberi inspirasi. Bahkan desa sekitar bisa datang. Ini tolong dirawat," pesannya.


Kepala Desa Hadipolo Wawan Setiawan menambahkan beberapa warganya memang menemukan bulus di Sungai Perak Sendang Bulusan. Agar dapat terus dipelihara, pihaknya memang menyarankan untuk menyerahkannya kepada Pokdarwis Mojobulus.

"Kemungkinan masih ada banyak di Sungai Perak Sendang Bulusan. Mungkin mereka bersembunyi. Saya imbau kepada siapa saja yang menemukan bisa diserahkan ke Pokdarwis agar bisa dipelihara dengan baik," terangnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed