DetikNews
Jumat 17 Mei 2019, 17:11 WIB

Dapat Grasi, 2 Petani Kendal yang Dibui 2 Tahun Akhirnya Bebas

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Dapat Grasi, 2 Petani Kendal yang Dibui 2 Tahun Akhirnya Bebas Foto: Dok LBH Semarang/detikcom
Kendal - Dua petani Surokonto, Kabupaten Kendal mendapatkan grasi dari Presiden Joko Widodo setelah sempat dibui sekitar 2 tahun. Kini di bulan Ramadhan ini petani bernama Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin itu bisa menghirup udara bebas.

Aziz yang dikenal sebagai tokoh agama dan Ketua Syuriyah MWC NU Pageruyung, Kendal itu langsung disambut keluarga dan para tetangga yang sudah menanti di depan Lapas Kendal. Ketika Kiai Aziz keluar lapas, isak tangis langung pecah dan pelukan silih berganti diterima Aziz.

"Alhamdulillah lega, pak. Terimakasih sekali kepada Pak Jokowi, sudah menunggu hampir 1 tahun. Dikabulkan, kemarin dipanggil Kalapas jam 10.00," kata Aziz sembari menerima pelukan dan ciuman dari kerabat di depan Lapas Kendal, Jumat (17/5/2019).

Petani itu tidak henti-hentinya mengucap syukur. Setelah bebas ini ia akan terlebih dulu melepas rindu dengan keluarga dan akan bertemu masyarakat.

"Alhamdulillah bisa hirup udara segar, ketemu ibu, anak masyarakat," pungkasnya.
Peluk cium keluarga usai keluar dari penjaraPeluk cium keluarga usai keluar dari penjara Foto: Dok LBH Semarang/detikcom

Begitu juga dengan Mbah Rusmin. Ia bersyukur dan setelah bebas akan terus berjuang untuk menghidupi keluarga.

"Senang bertemu anak istri. Tapi tidak boleh berhenti sampai saat ini soal kehidupan. Manusia harus tetap hidup, harus makan," ujar Rusmin.

Untuk diketahui grasi yang diberikan Presiden itu sudah didesak untuk dikeluarkan sejak setahun lalu. Mereka yang meneken dukungan pemberian grasi adalah PBNU, Komnas HAM, YLBHI, LBH Semarang, Walhi Jateng, dan jaringan Gusdurian.

Hari Senin 13 Mei 2019 lalu Permohonan Grasi mereka dikabulkan dengan Putusan Presiden RI No 8/G Tahun 2019 dengan petikan memberikan Grasi kepada Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin berupa menghapusan pelaksanaan sisa masa pidana yang harus di jalani dan penghapusan pidana denda.

Terkait kasusnya, diketahui 2 petani itu bersama warga menggarap lahan terlantar HGU PT Sumurpitu seluas sekitar 127 hektar sejak 1970. Kemudian PT Sumur pitu menjual lahan itu ke PT Semen Indonesia. Pada tahun 2014 dijadikan lahan tukar guling antara PT Semen Indonesia dengan Perhutani sehingga ditetapkan sebagai Kawasan Hutan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dua petani tersebut dituduh bersama-sama menggunakan kawasan hutan secara tidak sah yang diatur dalam pasal 94 (1) huruf a Undang-undang No 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H) dengan putusan Kasasi Mahkamah Agung (MA) yaitu Pidana penjara masing-masing 8 tahun dan denda masing-masing 10 miliar dan sejak 31 Maret 2017 mereka ditahan di Lapas Kendal.

"Grasi untuk petani Surokonto wetan, Kyai Nur Aziz dan Mbah Rusmin memang sudah sepantasnya untuk didapatkan mengingat kedua petani tersebut adalah korban kriminalisasi dari carut marutnya konflik agraria yg tak kunjung terselesaikan," kata Direktur LBH Semarang Zainal Arifin.

"Saya berpandangan dari kasus Kiai Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin ini juga seharusnya menjadi pengingat kepada pemerintah dan DPR untuk segera mencabut UU P3H mengingat banyak sekali pasal-pasal pemidanaan yang sangat berpotensi mengkriminalkan masyarakat di sekitar kawasan hutan," imbuhnya.



(alg/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed