DetikNews
Rabu 15 Mei 2019, 03:47 WIB

Masjid Sabilurrosya'ad, Dipercaya Peninggalan Raden Trenggono di Bantul

Pradito Rida Pertana - detikNews
Masjid Sabilurrosyaad, Dipercaya Peninggalan Raden Trenggono di Bantul Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Sebagian besar Masjid di Kabupaten Bantul memiliki sejarah yang menarik dikulik, salah satunya Masjid Sabilurrosya'ad di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul. Tak hanya menyimpan sejarah, Masjid peninggalan Panembahan Bodho atau Raden Trenggono ini juga memiliki jam matahari sebagai penentu waktu salat.

Takmir Masjid Sabilurrosya'ad, Nur Jauzak (52) mengatakan, bahwa Masjid tersebut merupakan peninggalan Raden Trenggono usai mendalami agama Islam di bawah bimbingan Sunan Kalijaga. Menurutnya, Masjid dengan arsitektur Jawa ini dibangun pada tahun 1485 Masehi.

"Ini satu-satunya Masjid peninggalan Raden Trenggono atau Panembahan Bodho. Beliau itu keturunan darah biru di (Kerajaan) Demak tapi dia memilih untuk datang ke sini (Kauman) dan menyebarkan islam, tepatnya pasca bertemu Sunan Kalijaga," ujar Nur saat ditemui detikcom di Masjid Sabilurrosya'ad di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul, Senin (13/5/2019).

Nur melanjutkan, nama Panembahan Bodho sendiri diperoleh Raden Trenggono dari Sunan Kalijaga. Di mana saat ini Raden Trenggono mengira suara gemuruh di Pantai selatan sebagai tanda serangan Portugis, padahal suara tersebut berasal dari deburan ombak di Pantai Selatan.

Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul.Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul. Foto: Pradito/detikcom


"Selain itu saat disuruh Sunan Kalijaga bertapa, Raden Trenggono masih membawa bekal makanan. Karena dinilai kurang pengalaman maka Sunan Kalijaga memberi sebutan Raden Trenggono dengan Ki Bodho," katanya.

"Kalau gelar Panembahan itu didapat Ki Bodho saat wilayah terung dikuasai Mataram. Karena rasa hormat beliau kepada pewaris dan keturunan Adipati Terung, Panembahan Senopati memberi penghargaan yang lebih tinggi kepada Ki Bodho dengan tanah perdikan di sebelah timur Sungai Progo ke utara sampai Gunung Merapi, dan karena sebagai tanah perdikan maka Ki Bodho diberi gelar Panembahan," imbuh Nur.

Nur menjelaskan, saat ini Masjid Sabilurrosya'ad telah mengalami beberapa kali pemugaran sehingga bentuk asli Masjid yang dibangun Panembahan Bodho sudah tidak tampak. Pemugaran itu terpaksa dilakukan karena kapasitas Masjid tak mampu lagi menampung jemaah.

Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul.Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Sudah beberapa kali dipugar, terakhir itu tahun 1982 saat memperbaiki serambi Masjid. Kalau satu-satunya peninggalan yang masih utuh hanya bedug dan watu gilang di samping jam matahari itu," ucap Nur.

Watu gilang, kata Nur memiliki dua versi untuk penjelasannya, di mana versi pertama batu berwarna hitam dengan ukuran sekitar 1x1 meter ini digunakan sebagai alas kaki Panembahan Bodho saat mengambil air wudhu.


Sedangkan versi kedua, watu gilang merupakan peninggalan umat Hindu yang kerap disebut Yoni. Di mana Yoni berfungsi sebagai penanda tempat atau sarana persembahan untuk ibadah umat Hindu.

Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul.Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul. Foto: Pradito/detikcom


"Mungkin saat itu Panembahan Bodho ingin menghormati umat beragama lainnya (umat Hindu) dengan cara memasang Yoni sebagai tanda kalau ada tempat beribadah (Masjid)," ucapnya.

Selain itu, tepat di samping watu gilang terdapat pula sebuah jam matahari atau dalam bahasa Jawa disebut jam Bancet. Nur menjelaskan bahwa jam yang dalam bahasa Arab disebut jam istiwak ini bukan peninggalan Panembahan Bodho.


"Ini (jam Bancet) termasuk baru, buatan tahun 1950 dari pabrik di Magelang ini. Fungsi jam ini dulu untuk memudahkan masyarakat mengetahui waktu salat, karena dulu masyarakat sempat kesulitan menentukan waktu salat," ucapnya.

Pantauan detikcom, jam matahari ini berbentuk persegi dengan cekungan di bagian atas. Cekungan tersebut terbuat dari bahan tembaga dengan sebuah paku berada di tengah-tengah cekungan tersebut.

Jam matahari di Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul.Jam matahari di Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul. Foto: Pradito/detikcom

Pada cekungan itu juga terdapat angka 5,4,3,2,1 di sisi kiri dan 7,8,9,10,11 di sisi kanan. Di mana pada bagian tengah terdapat angka 12, ketika terkena sinar matahari, bayangan paku tersebut mengarah ke angka tersebut.

"Jam bancet ini hanya bisa untuk menentukan jam salat dzuhur sama ashar, memang akurat meski dibanding jam ada selisih 10 menit," pungkasnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed