DetikNews
Jumat 10 Mei 2019, 03:52 WIB

Ketika Para Lansia Ramai-ramai Nyantri di Masjid Agung Payaman Magelang

Eko Susanto - detikNews
Ketika Para Lansia Ramai-ramai Nyantri di Masjid Agung Payaman Magelang Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang - Memasuki puasa Ramadhan, suasana berbeda terlihat di Masjid Agung Payaman, Dusun Kauman, Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Serambi masjid dipenuhi para lanjut usia (lansia) baik laki-laki maupun perempuan yang mondok.

Para lansia yang datang dari berbagai daerah ini sengaja mondok selama puasa Ramadan. Untuk menjadi santri sepuh ini, jauh hari sebelumnya mereka harus mendaftar terlebih dahulu. Para santriwati maupun santriwan sepuh ini datang dari sekitar Magelang maupun luar kota seperti Yogyakarta, Bandung, Bogor, Jakarta, bahkan ada juga yang datang dari Papua.

Mereka pun datang seperti layaknya santri pada umum juga membawa bekal pakaian. Kemudian, selama mondok ada yang tidur di rumah sekitar ponpes, namun ada juga santri sepuh yang tidur di serambi masjid.

Pengasuh pondok sepuh, KH Muhammad Tibyan AM mengatakan, pada puasa Ramadan ini yang merupakan bulan penuh berkah diadakan pengajian, siraman rohani. Dalam siraman rohani disampaikan materi yang fokus menghadapi hari akhir.

Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang.Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikcom

"Bulan yang penuh berkah, yang mana dosa-dosa akan diampuni pada bulan Ramadan ini. Dengan demikian, diadakan kegiatan pengajian, siraman rohani yang isinya difokuskan pada hari akhir. Artinya, kita semua akan menuju ke 'rumah idaman'. Mana rumah idaman," katanya saat ditemui di Pondok Pesantren Sepuh Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang, Kamis (9/5/2019).


"Rumah idaman ukuran 1 meter, 2 meter, dalamnya 1,5 meter. Lha itu, rumah idaman. Lha ini perlu bekal, di sana sendirian. Apa bekalnya, ya di sini (ponpes sepuh). Dicari di dalam siraman rohani bulan Ramadan, antara lain bekalnya adalah baca Alquran, bekal lagi ibadah salat, ibadah puasa, ibadah zakat, ibadah sedekah. Itulah semua bekal untuk ke rumah idaman tadi," ujarnya.

Pengasuh Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang.Pengasuh Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikcom

Tibyan menjelaskan jumlah santri lansia di pondok pesantren tersebut kini hampir 50 persen dibanding sebelumnya. Untuk santri sepuh yang mondok pada saat puasa Ramadan ini berjumlah 280 orang.

Selama nyantri, kata dia, kegiatan para santri antara lain mengikuti salat tarawih, tadarus, mujahadah dan salat malam. Kemudian, sahur bersama dilanjutkan salat subuh, kuliah subuh dan menjelang salat zuhur ada kajian fikih.

ponpes

"Keberadaan pondok sepuh sejak kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia, saat itu Mbah Siradj (KH Anwari Siradj bin Abdurrosyid) mengadakan pengajian, animo masyarakat luar biasa. Memang dikhususkan untuk orang-orang yang akan persiapan ke 'rumah idaman' sebaiknya di sini Masjid Agung Payaman," tuturnya.

Salah seorang santri sepuh dari Jakarta, Sholikin Ruslan (68), mengaku menjadi santri di pesantren sepuh ini untuk mengisi hari-hari akhir. Hal ini dilakukannya untuk mengingat bahwa dirinya masih punya kesempatan hidup.

Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang.Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikcom

"Ini untuk mengisi hari-hari akhir, mumpung masih hidup. Mumpung masih hidup, kita maksimal," katanya seraya menyebut dirinya mengetahui ponpes ini dari internet.

"Baru pertama ini. Dominan niatnya ke sini dengerin ceramah, kedua berusaha maksimal ibadah dan baca Alquran sampai selesai," ujar dia.

Kemudian seorang santriwati dari Papua, Ida Aryani (58), mengatakan sengaja ikut pesantren ini karena sudah pensiuan dari bekerja. Dia mengaku sedang menyesuaikan diri dengan bahasa pengantar dalam ponpes ini yang menggunakan Bahasa Jawa.

Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang.Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikcom

"Kami tahu ponpes ini dari Google. Saya dulunya PNS sudah pensiun, terus mau apa lagi, jadi ikut kegiatan pesantren. Ini baru pertama kalinya," ujarnya.

Hal senada disampaikan santri lainnya, Abdul Aziz (72), warga Gamping Sleman. Ia sudah kelima kalinya menjadi santri di pondok pesantren ini.

"Di sini senang sekali, tambah ilmu, bisa silaturahmi," tutur pensiunan PNS Pemkab Sleman, itu.

Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang.Pondok pesantren sepuh di Masjid Agung Payaman, Secang, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikcom

Begitu juga dengan santriwati, Siti Muntomimah (96), warga Kebondalem, Windusari, Kabupaten Magelang. Ia sudah kali ketiga menjadi santri sepuh saat Ramadan.

"Kula sampun kaping tigo. Teng mriki rasane betah, tenang yen maos quran. Yen mboten maos quran nggih nyepeng tasbih. (Saya sudah ketiga kali. Di sini betah, suasananya tenang kalau membaca Alquran. Kalau tidak membaca Aluran, yang pegang tasbih)," ujarnya seraya memegang tasbih.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed