detikNews
Jumat 10 Mei 2019, 03:44 WIB

Round-Up

Fakta di Balik Pengeroyokan Kasatreskrim Wonogiri Saat Amankan Tawuran

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Fakta di Balik Pengeroyokan Kasatreskrim Wonogiri Saat Amankan Tawuran Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Wonogiri - Nasib nahas menimpa Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya saat mengamankan bentrokan. Dia justru menjadi korban pengeroyokan oleh massa hingga mengalami luka serius.

Peristiwa bermula dari adanya bentrokan antara dua kelompok perguruan beladiri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) sejak Senin (6/5). Puncaknya pada Rabu (8/5) malam bentrokan melibatkan massa dalam jumlah besar.

Saat itu pasukan yang dipimpin Kapolres Wonogiri AKBP Uri Nartanti melakukan pendekatan persuasif untuk meminta massa membubarkan diri. Di saat bersamaan, Kasatreskrim yang terpisah dari pasukan lain justru dikeroyok sejumlah massa.

"(Aditia) berada di dekat pom bensin, pakai baju preman. Katanya terpisah (dengan pasukan lain)," ujar Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel usai menjenguk Aditia di RS dr Oen Sukoharjo, Jumat (9/5).

Menurutnya, Aditia mengalami luka serius di bagian kepala. Akibatnya, mantan Kapolsek Pasar Kliwon Surakarta itu belun sadarkan diri.


"Dokter masih berusaha melakukan pengobatan yang terbaik Saya mohon dukungan, mohon doa agar bisa diobati dengan baik," ujarnya.

Kapolda Jateng, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel saat menjenguk AKP Aditia. Kapolda Jateng, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel saat menjenguk AKP Aditia. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Kapolres Wonogiri menyebut secara spesifik bahwa Aditia mengalami gegar otak. Aditia mengalami luka akibat pukulan di bagian kepala.

"Luka di kepala, kena pukulan, robek di kepala, gegar otak dan saat ini belum sadarkan diri," kata Uri saat ditemui di Mapolresta Surakarta, Kamis (9/5).

Ruang ICU di RS dr Oen Solo Baru, Sukoharjo.Ruang ICU di RS dr Oen Solo Baru, Sukoharjo. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Uri menegaskan pihaknya akan memroses hukum pelaku pengeroyokan terhadap anggotanya. Namun dia berharap pelaku mau mengakui kesalahannya menyerahkan diri.

"Lebih bagus pelaku menyerahkan diri. Karena laripun kami akan mengejar," ujarnya.

Pihaknya kini masih melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. Polisi terus mengumpulkan barang bukti dan keterangan para saksi.

Di sisi lain untuk meredam konflik antara kedua kubu, masing-masing ketua umum (ketum) dikumpulkan di Mapolresta Surakarta, Kamis (9/5).


Kedua ketum sepakat untuk mengakhiri konflik. Mereka ingin anggotanya bersikap tenang dan tidak lagi turun ke jalan.

"Dilarang melakukan perbuatan balas dendam, anarkis dan perbuatan lain yang melanggar hukum. PSHT menyerahkan sepenuhnya masalah tersebut kepada aparat penegak hukum," ujar Ketum PSHT R Murjoko Hadiwijoyo.

Senada dengan itu, Ketum PSHW, R Agus Wiyono Santoso juga mengimbau kepada anggotanya agar tidak turun ke jalan. "Saudaraku di manapun anda berada, peristiwa yang terjadi ini jangan terulang lagi. Ini yang terakhir kali," katanya.
(bai/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com