Tradisi Unggahan di Makam Bonokeling, Dipercaya Berusia Ratusan Tahun

Arbi Anugrah - detikNews
Jumat, 26 Apr 2019 18:31 WIB
Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Banyumas - Penganut Islam Kejawen dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah mengikuti ritual Unggahan di makam Bonokeling, Desa Pakuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas hari ini. Ritual Unggahan atau Sadran merupakan tradisi yang digelar setiap Jumat terakhir pada bulan Ruwah (Syaban) guna menyambut datangnya Ramadan.

Dalam tradisi tersebut, para penganut Kejawen wajib mengenakan pakaian adat Jawa, seperti kaum wanita hanya memakai kemben (kain jarit) dengan selendang berwarna putih, sedangkan kaum pria harus memakai kain jarit serta mengenakan iket (ikat kepala). Prosesi dalam tradisi unggah unggahan ini berlangsung selama tiga hari dan melibatkan ribuan 'anak putu' atau anak cucu Bonokeling.

Kebersamaan dalam kekerabatan masyarakat adat Bonokeling terus membudaya hingga sekarang. Masyarakat adat Bonokeling memiliki beragam tradisi yang tak lekang oleh zaman, salah satunya unggah unggahan.

Juru Bicara Tetua Adat Komunitas Bonokeling, Sumitro menjelaskan, kunci dari pelestarian tradisi yakni generasi tua masyarakat adat Bonokeling menularkan tradisi kepada anak cucu mereka. Tapi untuk mengikuti tradisi, generasi penerus harus melakukannya atas keinginannya sendiri.

"Dalam setiap pertemuan, juru kunci maupun para bedogol memberikan wejangan pentingnya menjaga kelestarian adat," katanya di komplek makam Bonokeling, Jumat (26/4/2019).

Menurutnya, meskipun masyarakat adat Bonekeling telah tersebar di mana-mana, tetapi dalam setiap ritual tradisi terutama unggah unggahan digunakan sebagai ajang pertemuan dan interaksi masyarakat ada Bonokeling.

"Kami dipersatukan dalam kekerabatan Bonokeling. Masyarakat di sini memang terbuka dengan siapa saja dan pengaruh apa pun, tetapi kalau sudah tentang tradisi, itu sangat kami pegang erat dan tetap dilestarikan sampai kapan pun," jelasnya.
Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Untuk melaksanakan ritual unggahan, biasanya anak cucu yang berasal dari Kabupaten Cilacap mulai berdatangan pada hari Kamis (25/4) dengan 'laku lampah' atau berjalan kaki puluhan kilometer. Mereka datang dengan membawa berbagai kebutuhan pokok.

Saat memasuki perbatasan Kabupaten Cilacap dan Banyumas, semua hasil bumi yang dipikul kaum lelaki diserahkan kepada para bedogol atau pembantu juru kunci atau pemimpin kelompok dalam Bonokeling. Setelah itu para anak putu dari Desa Pakuncen akan mengambil alih pikulan tersebut dan membawanya sambil berjalan kaki kembali menuju rumah adat sebagai tempat prosesi unggahan.

Setelah itu, para masyarakat adat Bonokeling akan istirahat di rumah warga. Ada juga yang istirahat di komplek Makam Bonokeling yaitu di Bale Mbangun. Sebelum acara ritual unggah-unggahan dimulai, akan dilakukan dengan menyembelih kambing dan memasak bersama.

"Kalau untuk warga Bonokeling dari luar daerah, mereka beristirahat di rumah-rumah Bedogol dan di kompleks makam. Sedangkan warga di sini mempersiapkan semacam dapur umum untuk nantinya digunakan masak. Bahan masakan merupakan hasil bumi yang dibawa oleh warga dari Cilacap. Selain itu, juga ada kambing untuk dipotong," ujarnya.

Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Yang menarik, saat memasak semuanya dilakukan oleh kaum lelaki, selain itu seluruh peralatan makan dan bumbu memasak menggunakan bahan alam seperti daun pisang atau daun jati untuk alas makan bersama. Kearifan lokal menyatu dengan alam tersebut, juga dengan mempertahankan pepohonan besar yang berada di area makam.

Dia menjelaskan, sebelum masuk ke makam Bonokeling, anak putu akan antre berjalan secara rapi. Dalam prosesinya, para perempuan yang terlebih dahulu melakukan ritual ziarah, baru diikuti oleh para lelaki dan dalam seluruh prosesi tersebut semua orang harus menanggalkan alas kaki.

"Dalam prosesi ziarah, mereka harus melepas alas kaki saat berada di rumah-rumah Bedogol maupun di kompleks makam. Artinya tidak lain adalah bagaimana menyatukan diri dengan alam," ujarnya.

Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Foto: Arbi Anugrah/detikcom


Di kompleks makam itulah, secara bergiliran, mereka melakukan ritual unggah unggahan dengan berpakaian adat Jawa kuno. Prosesi itu ditutup dengan makan besar bersama seluruh warga komunitas Bonokeling.

"Tradisi ini memang telah berlangsung ratusan tahun. Yang jelas, sampai sekarang masih tetap dipertahankan dan dilestarikan. Tidak hanya orang tua saja yang datang, tetapi juga anak-anak, pemuda dan para sepuh," ucapnya.

Prosesi ziarah di dalam makam biasanya membutuhkan waktu selama berjam-jam, karena ziarah dilakukan satu per satu. Saat menunggu giliran, mereka biasanya berada di bawah pohon yang rindang, ada yang sambil duduk, bahkan tiduran.

Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Tradisi unggahan masyarakat adat Bonokeling. Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Setelah menyelesaikan prosesi ziarah, seluruh anak putu Bonokeling akan makan bersama di kompleks dalam makam, dan masyarakat adat Bonokeling yang berasal dari Cilacap, masih harus menginap semalam lagi. Hingga pada pagi harinya Sabtu (26/4), mereka akan kembali lagi ke rumahnya masing-masing dengan berjalan kaki.

Hingga kini pengikut Bonokeling tercatat lebih dari 5 ribu orang yang tersebar di sejumlah Kecamatan di Cilacap seperti Adipala, Kroya, Sidareja. (arb/sip)