DetikNews
Senin 15 April 2019, 17:16 WIB

BMKG Minta Petani Pahami Perubahan Iklim Untuk Bekal Rekayasa Tanam

Ristu Hanafi - detikNews
BMKG Minta Petani Pahami Perubahan Iklim Untuk Bekal Rekayasa Tanam Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati. Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Yogyakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Yogyakarta. Sebanyak 30 peserta berasal dari Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Pengamat Organisme Penggangu Tanaman (POPT) Kabupaten Bantul ini diharapkan bisa sosialisasi kepada petani agar mampu merekayasa tanam dengan mempertimbangkan faktor cuaca.

"Sekolah lapang iklim ini diharapkan bisa membantu petani melakukan rekayasa tanam, dengan tahu cuaca, komoditas unggulan apa yang bisa ditanam. Poinnya adalah pengetahuan petani berkembang, karena kondisi alam kita juga berkembang. Di masa lalu belum ada perubahan iklim global yang dahsyat, sekarang perubahan iklim bisa mendadak terjadi. Perubahan iklim inilah yang menjadikan penting bagi pertani agar memahami informasi cuaca dan iklim," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Senin (15/4/2019).

Hal itu disampaikannya di sela pembukaan SLI Tahap II Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) BMKG, di Hotel Forriz Yogyakarta.

"Sehingga dengan pemahaman tentang iklim dan cuaca ini, tujuannya bisa mengurangi risiko baik korban maupun kerugian ekonomi," lanjut Dwikorita.

Pembukaan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II BMKG di Yogyakarta.Pembukaan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap II BMKG di Yogyakarta. Foto: Ristu Hanafi/detikcom

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, R Mulyono Rahadi Prabowo menjelaskan saat ini wilayah Indonesia pada umumnya telah memasuki awal musim kemarau. Para petani pun diharapkan bisa menyesuaikan proses tanam dengan kondisi iklim.

"Kondisi pertanian ada empat faktor, bibit, lahan, air, dan faktor keempat yang tak bisa kita atur yaitu iklim. Sehingga kita perlu memanfaatkan celah-celah waktu, jika kondisi iklim kurang memungkinkan kita bisa meminialkan kerugian. Kapan itu iklim ekstrem, kapan tidak ekstrem, jika kondisi iklim kurang kondusif kita bisa mengatur komoditi apa yang akan kita tanam. jadi tergantung dari periode waktu, lebih panjang kemarau atau musim hujannya," urainya.

Data BMKG Yogyakarta, pada bulan April ini jumlah curah hujan bulanan diprediksi berkisar 101-300 mm/bulan (kategori menengah). Kondisi ini merupakan masa transisi atau pancaroba, hujan masih berpotensi muncul terutama di sore hari meskipun kisarannya lokal dan tidak merata serta tidak kontinu hujannya.

Memasuki bulan Mei, jumlah curah hujan mengalami penurunan mencapai 21-100 mm/bulan bila dibandingkan dengan April (kategori rendah). Penurunan curah hujan bulanan ini terjadi karena di wilayah DIY sudah masuk awal musim kemarau.

Dan awal musim kemarau 2019 untuk wilayah Yogyakarta sebagian besar mengalami kemunduran dari normalnya (75 persen). Sedangkan sisanya sama dengan normalnya (25 %). Awal musim kemarau akan dimulai pada dasarian 3 April 2019 untuk wilayah Gunungkidul dan Bantul bagian timur). Sebagian besar wilayah di DIY akan masuk awal musim kemarau di dasarian 1-2 Mei 2019. Dan yang terakhir masuk musim kemarau adalah wilayah sekitar Gunung Merapi.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul, Pulung Haryadi menambahkan, mayoritas petani di wilayahnya bertanam padi. Totalnya sekitar 80 persen dibandingkan komoditas lainnya.

"Yang lainnya adalah bawang merah, kedelai, jagung, dan ada sebagian tebu," ujarnya. Sedangkan untuk lahan tanam di Bantul, seluas 15.193 hektare merupakan lahan sawah.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed