DetikNews
Minggu 14 April 2019, 14:46 WIB

Ribuan Warga Hadiri Grebek Sadranan di Cepogo, Boyolali

Ragil Ajiyanto - detikNews
Ribuan Warga Hadiri Grebek Sadranan di Cepogo, Boyolali Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom
Boyolali - Warga Cepogo, Boyolali menggelar tradisi grebek sadranan. Acara tradisi yang dihadiri ribuan warga termasuk sejumlah turis asing berlangsung meriah.

Sadranan merupakan tradisi rutin warga di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali setiap bulan Ruwah, dalam penanggalan Jawa. Setiap dukuh dan desa menggelar tradisi yang sudah turun-temurun sejak nenek moyang itu, dengan waktu yang berbeda-besa.

Namun yang unik di Kecamatan Cepogo, dan sejumlah desa di kecamatan lain yakni Selo dan Musuk, pelaksanaan sadranan berbeda dengan pada umumnya. Di wilayah tersebut tradisi sadranan sudah seperti Hari Raya Idul Fitri. Warga usai ziarah kubur para leluhurnya, kemudian saling berkunjung atau silaturahmi.
Grebek sadranan di Cepogo, BoyolaliGrebek sadranan di Cepogo, Boyolali Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

"Sadranan itu sudah menjadi agenda rutin turun-temurun di Cepogo, kami dari Pemerintah Kecamatan berusaha mengemas menjadi festival yang akan menjadi budaya tahunan di Kecamatan Cepogo," ujar Camat Cepogo, Insan Adi Asmono, disela-sela kegiatan Grebek Sadranan, Minggu (14/4/2019) .

Dia menjelaskan, Grebek Sadranan ini sebagai pembuka tradisi sadranan di Kecamatan Cepogo, yang akan dilaksanakan tiap desa secara bergantian. Maka, dalam kegiatan tersebut juga dibacakan jadwal sadranan masing-masing desa yang akan dimulai 18 hingga 30 April 2019.

Acara Grebek Sadranan dimulai dengan kirab tenong berisi berbagai makanan khas Cepogo itu, tumpeng seger dan gunungan hasil bumi dan makanan khas. Gerebek Sadranan ini diikuti 15 desa di Kecamatan Cepogo. Setiap desa membawa 21 tenong dan tiga tumpeng seger. Selain itu juga ada 7 gunungan hasil bumi dan 7 gunungan makanan khas Cepogo.

"Jumlah tenong 315, kemudian 7 gunungan hasil bumi dan 7 gunungan makanan khas Cepogo. Disamping itu masing-masing desa juga membawa tiga tumpeng seger," jelasnya.

Pawai tenong serta gunungan dari dua arah dan bertemu di depan kantor Kecamatan Cepogo. Basirsan paling depan yakni prajurit bregodo keraton Surakarta, kemudian diikuti tenong dan gunungan serta tumpeng.

Sesampainya di kantor Kecamatan Cepogo, 315 tenong itu diletakkan di pinggir jalan. Sedangkan gunungan dibawa masuk ke halaman kantor untuk acara seremonial. Setelah pembacaan doa, gunungan dibawa keluar ke jalan untuk diperebutkan kepada warga. Tenong pun dibuka dan masyarakat pengunjung bisa ikut makan bareng atau istilah jawanya Kembul Bujono.
Acara Sadranan digelar tiap bulan ruwah jelang puasaAcara Sadranan digelar tiap bulan ruwah jelang puasa Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

Wakil Bupati Boyolali, M. Said Hidayat yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi pelaksanaan Grebek Sadranan yang baru pertama kali digelar ini. Pihaknya berharap, acara ini bisa menjadi agenda rutin tahunan serta bisa menumbuhkembangkan kepariwisataan dan budaya.

"Semoga ini menjadi suatu dorongan, juga utamanya kecamatan yang lain di Boyolali mampu untuk turut serta menggali potensi budaya lokal masing-masing, sehingga nantinya dapat menumbuhkan nilai-nilai budaya tradisi yang ada," harapnya.

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed