DetikNews
Kamis 28 Maret 2019, 16:17 WIB

Menaker: Soal K3 untuk Perusahaan Start Up Masih Abu-abu

Pradito Rida Pertana - detikNews
Menaker: Soal K3 untuk Perusahaan Start Up Masih Abu-abu Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di perusahaan-perusahaan start up yang bergerak di bidang teknologi masih abu-abu. Hal itu karena permasalahan hubungan kerja di perusahaan start up.

"Ya kalau itu (K3 untuk perusahaan start up) terus terang belum, ini secara spesifik, tapi coba kita lihat perkembangannya," ungkap Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, M. Hanif Dhakiri usai membuka The 6th ASEAN OSHNET conference di Grand Dafam Rohan Hotel, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Kamis (28/3/2019).

Menurut Hanif, hal itu karena belum ditemukannya sisi hubungan kerja pada industri-industri start up. Meski diakuinya bahwa peningkatan inovasi teknologi yang dilakukan perusahaan start up berpengaruh pada K3.

"Karena memang dari sisi hubungan kerja saja sampai hari ini belum ketemu, bahkan di tingkat ILO (Organisasi Perburuhan Internasional), ILO menyebut hubungan kerja di industri-industri start up sebagai u from of employment. Karena belum nemu itu, jadi definisi belum ada juga, dan masalah oshnya (Occupational Safety and Health) disitu, sehingga jadi PR di masa depan," kata Hanif.

"Tapi pada prinsipnya adalah masalah K3 akan sangat terkait juga inovasi di bidang teknologi, dalam arti bahwa semakin tinggi inovasi teknologi level of safetynya juga akan meningkat," sambungnya.

Kendati demikian, Hanif mengakui inovasi terkait bisnis perusahaan-perusahaan start up saat ini semakin maju. Bahkan, ia menyebutkan kedepannya hasil inovasi tersebut berdampak pada meningkatnya level keselamatan.

"Ambilah misal motor, inovasi teknologi pada motor semakin canggih dan mobil bisa dikendalikan dengan komputer. Hal itu akhirnya membuat separuh-separuh mengendalikannya. Jadi secara safety lebih baik," katanya.

"Tapi terkait invoasi bisnis start up ini masih belum fokus ke sana ya, mungkin di masa depan perlu," pungkas Hanif.



Tonton juga video 150 Startup Siap Digembleng di 'Thinkubator':

[Gambas:Video 20detik]


(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed