DetikNews
Rabu 27 Maret 2019, 16:12 WIB

Hebat! 2 Siswa SMAN 1 Grabag Sabet Emas di Hongkong Berkat Nasi Beton

Eko Susanto - detikNews
Hebat! 2 Siswa SMAN 1 Grabag Sabet Emas di Hongkong Berkat Nasi Beton Dua siswa SMAN 1 Grabag, Magelang peraih medali emas di Hongkong. Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang - Dua siswa SMAN 1 Grabag, Kabupaten Magelang, meraih emas dalam Olimpiade Biologi di Hongkong. Prestasi yang diraih ini merupakan kali pertama untuk lomba di kancah internasional.

Adapun kedua siswa yang mengharumkan nama bangsa Indonesia ini yakni, Muhammad Usman Muqoffa (18) dan Muhammad Farkhan Suha (18). Mereka berdua saat ini tercatat sebagai pelajar kelas XI-IPA.3 SMAN 1 Grabag, Kabupaten Magelang. Penelitian yang dilakukan keduanya berjudul Nabe atau Nasi Beton (Analog Rice From Jackfruit Seed).

Tadi saat sampai di sekolah, kedua siswa ini disambut keluarga besar SMAN 1 Grabag. Mereka mendapatkan kalungan bunga dari Kepala SMAN 1 Grabag Ani Ardi Supriyani. Bahkan, kedua siswa ini juga disambut kedua orangtuanya masing-masing.

"Ide penelitian ini, pertama saya pernah naik sepeda motor melihat ibu-ibu membuang plastik yang berisi beton atau biji nangka di tempat sampah. Terus saya lanjut lagi, melihat mbah-mbah lagi mengeringkan beras sisa, kemungkinan beras itu dibuat beras aking. Kami melihat ada korelasi di antara dua masalah ini, kami mencoba membuat beras analog dari biji nangka," ujar Suha saat ditemui di sekolahnya, Rabu (27/3/2018).

"Kami melihat biji nangka itu tidak ada harganya di sini. Kok jadi limbah dan nggak ada harga, pada hal saya cari di referensi-referensi yang ada, itu (biji nangka) kandungan gizinya cukup tinggi terutama karbohidrat nggak kalah dengan nasi. Bahkan punya efek untuk meningkatkan produksi insulin dalam pangkreas sehingga baik untuk penderita diabetes militus. Wah saya rasa cocok ini," ujar Suha, yang pernah menjadi juara MTQ, itu.

Kepulangan Suha dan Usman disambut para guru dan orang tua. Kepulangan Suha dan Usman disambut para guru dan orang tua. Foto: Eko Susanto/detikcom

Sebelum mengikuti Hongkong Student Science Project Competition (HKSSPC) 21-24 Maret 2019, Suha juga mengikuti lomba namanya Ispo (Indonesia Science Project Olimpiade 2018). Ketika itu, Suha mengikuti lomba seorang diri dan mendapatkan medali perak atau juara dua.

"Ketika saya kelas X itu, mengirimkan proposal. Setelah itu, lolos kemudian mengirimkan full paper (makalah lengkap). Lolos masuk semifinal dan maju ke Jakarta, seleksi poster masuk terus masuk final, kemudian presentasi di depan juri. Alhamdulillah mendapatkan medali perak (juara dua) tingkat nasional. Setelah itu, ada surat keputusan bahwa kami menjadi delegasi Indonesia di ajang lomba HKSSPC 2019 di Hongkong," tuturnya.

Hebat! 2 Siswa SMAN 1 Grabag Sabet Emas di Hongkong Berkat Nasi BetonFoto: Eko Susanto/detikcom

Suha mengakui, sebelum mempresentasikan penelitian di hadapan juri di Hongkong, sejak November 2018 telah mengirimkan proposal penelitian. Setelah mengirimkan proposal tersebut tak lama kemudian memperoleh kabar jika harus mempresentasikan hasil penelitian di Hongkong. Adapun dalam lomba di Hongkong ini mendapatkan medali emas.


Untuk lomba yang berlangsung di Hongkong tersebut, kata dia, para peserta datang dari Mexico, Amerika, Chili, Korea, Filipina, Thailand, Singapura dan lainnya. Untuk total peserta ada 30 tim. Sedangkan dari Indonesia dua tim meliputi dari SMAN 1 Grabag dan SMAN 4 Denpasar, Bali.

Suha dan Usman disambut para guru dan orang tua di sekolahnya.Suha dan Usman disambut para guru dan orang tua di sekolahnya. Foto: Eko Susanto/detikcom

Sementara itu, Usman menambahkan, sebelum menuju Hongkong memperbaiki proyek Nabe ini meliputi dari pembuatan sampai mempresentasikannya. Untuk sebulan sebelum berangkat menuju Hongkong melakukan penelitian secara intens.

"Setiap hari, kami hanya ngopeni itu terus (nabe). Sebulan sebelum pemberangkatan fokus pembuatan nabe itu, termasuk pembuatan poster dan latihan presentasi. Kami tanggal 20 Maret berangkat dari sini ke Jakarta, terus ke Hongkong," ujar Usman.


Adapun yang menjadi latar belakang permasalahan dalam penelitian ini, pertama, problem di Indonesia beton atau isi nangka tersebut dibuang dan tidak dimanfaatkan. Kemudian, kedua masih ada masyarakat di Indonesia yang mengonsumsi nasi aking.

"Bagaimana caranya mengubah beton itu menjadi barang yang berguna. Pertama, beton dikupas terus diblender biar waktu pengeringan cepat. Setelah dikeringkan, dihaluskan pakai mesin tepung, diformulasi dicampur sama tepung kedelai dan tepung tapioka. Ketiganya dengan formulasi sendiri-sendiri, setelah itu dikukus selama 30 menit terus dicetak hingga akhirnya menjadi beras. Setelah menjadi beras cara memasaknya hanya dengan dikukus selama 10 menit sudah masak," ujar dia.

Kepala SMAN 1 Grabag, Kabupaten Magelang, Ani Ardi Supriyani berharap, keberhasilan mereka ini bisa memotivasi teman-teman lainnya menyusul kesuksesannya. Untuk tingkat internasional bagi sekolah yang pertama kalinya.

"Untuk tingkat internasional baru pertama kali, tapi kalau tingkat nasional sudah sering kali. Harapan ke depan banyak siswa yang menyusul kesuksesan mereka berdua," katanya.

Sedangkan orangtua Usman, KH Arif Mafatihul Huda (54), menilai anaknya sebagai siswa biasa-biasa saja namun aktif dan tekun.

"Bagi Usman ini kejuaraan yang kedua kali. Dulu pernah mengikuti lomba event nasional di SMA Taruna Nusantara, saat itu belum berhasil. Waktu itu, atas nama MTs Kudus, sedangkan Suha juga atas nama SMPN 2 Kota Magelang, semuanya kurang berhasil tapi tidak menyurutkan semangat mereka," ujarnya.

Keseharian Usman, katanya, di rumah aktif dan malam hari belajar.

"Dia tidak pernah melihat televisi. Harapan kami nantinya bisa mempertahankan hasil ini karena mempunyai efek yang bagus untuk SMA 1 Grabag dan juga memperkenalkan kepada bangsa Indonesia juga maju. Ternyata dengan sebuah beton bisa menghantarkan ke jenjang internasional," katanya.

Sementara itu, orangtua Suha, Tachsin Anwar (56), menambahkan, Suha sudah mempunyai kebiasaan melakukan penelitian sejak masih di SMP. Setelah SMA ini, rupanya minat Suha terhadap penelitian semakin berkembang.

"Anak saya itu memang sudah punya kebiasaan atau tradisi meneliti sejak masih SMP, sudah seperti itu. Mungkin di sini, dia lebih berkembang lagi dengan pembimbing-pembimbing dari SMA kan lebih bisa mengembangkan. Kalau juara internasional baru kali ini, tapi kalau nasional sudah 2-3 kali," ujarnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed